Total Pageviews

Translate

Saturday, September 23, 2017

The Foreign Language

I often wrote bilingual articles lately, just to ensure that my fellow Indonesians had an option to read in our own language. Once I published one, I normally asked my wife if she had read it and if yes, which version, English or Bahasa Indonesia. She liked the English version better, citing the reason that my style in Bahasa was horrible, dated and awkward. 

That was one amusing feedback, really. Never realized that my Bahasa Indonesia writing skill had deteriorated that much. To think that it used to be the other way around. English was something that we had to learn, unlike Bahasa Indonesia that happened naturally and gradually as we grew up. Learning English was one hell of a chore and I hated it, so I always made lame excuses such as feeling sleepy or sick in order to skip the tuition class.

For the longest time, I practically learnt nothing thanks to my deliberate attempts to sabotage myself. Things changed when I watched the Beatles Anthology on TV in early 1996. I was impressed with the music and charmed by the way they spoke. It was an epiphany. For the first time ever, I felt like I wanted to be able to speak English like these four lads from Liverpool, too. In fact, I was so motivated that I actually went to register myself to a class that focused on conversation at Gajah Mada English course (that was the place where we sang MLTR's songs).

Despite the enthusiasm, I had an awful start. I still remember clearly how I couldn't tell the difference between campaign and champagne. I was a laughing stock, but I guess that was how it worked when you learnt something new. It was only natural that people laughed at our silly mistakes, but then they'd give us some useful pointers.

Ardian (middle), my sparing partner in English, with Jimmy (left) and Endrico (right) in Bali, 2005.

I also spent those nights listening to Rubber Soul album, writing down the lyrics as much as I could. This was the pre-internet era, so I couldn't just google it, but the pronunciation of John and Paul was actually quite clear that it helped. A little bit of advice here, don't ever start with Michael Jackson. As much as I loved Michael, the way he sang was like butchering the language! He also pronounced come on in a very weird way. 

As I gained more vocabularies, the next thing was to make good use of them. I was lucky that apart from the time I spent at the tuition centre, I had this friend called Ardian as a sparing partner. We practiced by communicating in  English frequently.

Years later, when I came to Singapore, I realized that there was actually this thing called accent. Singlish has a heavy Hokkien influence, the East Java people often have the accent that reveals their origin, the French can't help adding z letter pronunciation on some words and so forth. Intimidating, eh? There were cases where it actually took some time for my ears to get used to somebody's accent and I would usually smile and nod along until I was attuned to the right frequency, haha. 

In the end, practice makes us better. I was a late starter in learning English, but with the combination of motivation and willingness to learn, I managed to catch up. In the world we're living in now, I think it is a basic necessity to be able to speak English and Chinese. But if a genius like Mark Zuckerberg still has a hard time getting the right intonation in speaking Chinese, perhaps we should start with English first...

PS: Please bear with my Bahasa Indonesia version as I'm working on it 😀



Bahasa Asing Itu...

Saya sering menulis artikel dalam dua bahasa belakangan ini, supaya para pembaca dari Indonesia bisa membaca dalam bahasa kita. Setelah merilis artikel terbaru, biasanya saya bertanya pada istri saya, versi mana yang dia baca. Ternyata dia lebih menyukai versi bahasa Inggris, alasannya karena bahasa Indonesia saya parah gayanya, ketinggalan zaman dan kaku.

Ini benar-benar masukan yang menarik. Saya tidak pernah menyangka kemampuan menulis saya dalam bahasa Indonesia sudah berkurang drastis, padahal dulunya itu kebalikan dari apa yang terjadi saat ini. Bahasa Inggris adalah sesuatu yang harus saya pelajari, sedangkan bahasa Indonesia bagaikan dikuasai begitu saja secara alami dari sejak kecil. Bagi saya, belajar bahasa Inggris itu seperti tugas berat dan saya tidak menyukainya. Saya sering beralasan sakit atau ngantuk hanya untuk membolos kursus bahasa Inggris dulu.

Dari SD kelas tiga sampai awal SMA kelas satu, boleh dikatakan saya tidak belajar apa-apa meskipun kursus di sana-sini. Situasi ini baru berubah setelah saya menyaksikan the Beatles Anthology yang ditayangkan di RCTI tahun 1996. Saya terkesan dengan musik mereka yang sederhana tapi enak di telinga dan juga gaya bicara mereka. Tontonan selama tiga malam berturut-turut itu tak ubahnya seperti pencerahan bagi saya. Untuk pertama kalinya saya ingin bisa berbicara bahasa Inggris seperti mereka. Saya sungguh termotivasi dan akhirnya pergi mendaftar sendiri di kursus bahasa Inggris Gajah Mada, kursus yang fokus pada percakapan (ingat artikel sebelumnya, dimana kita sering menyanyikan lagu MLTR? Ini tempatnya).

Walaupun antusias, itu tidak berarti semuanya berjalan mulus. Di hari pertama kursus, saya bahkan tidak bisa membedakan kata campaign dan champagne. Saya menjadi bahan tertawaan, tapi saya kira itu adalah bagian dari pembelajaran. Lumrah saja bila orang lain menertawakan kesalahan kita yang konyol, tapi selanjutnya mereka akan memberitahukan di mana letak kesalahan kita.

Saya juga ingat tentang setiap malam yang saya habiskan dengan mendengar album Rubber Soul dan menuliskan lirik lagu saya dengar. Lafal dan ucapan John dan Paul cukup jelas sehingga cocok untuk latihan. Sedikit nasehat buat anda jika ingin menggunakan metode yang sama, jangan mulai dengan lagu Michael Jackson. Saya juga penggemar Michael, tapi caranya menyanyi membuat lirik lagunya tidak jelas sama sekali!

Setelah saya mulai mengenal banyak kata, berikutnya adalah melatih cara penggunaannya. Waktu kursus sangat terbatas, namun saya beruntung karena memiliki teman baik yang memiliki minat yang sama. Sewaktu kuliah, saya berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan Ardian hampir di setiap kesempatan.

Bertahun-tahun kemudian, ketika saya datang ke Singapura, saya baru menyadari bahwa ada yang namanya aksen. Singlish sangat dipengaruhi oleh bahasa Hokkien, orang Jawa Timur cenderung mempunyai aksen yang medok sehingga gampang ditebak, orang Perancis sering menggunakan bunyi huruf z karena aksen Perancisnya dan masih banyak lagi. Terkadang, selagi saya butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan aksen lawan bicara, saya biasanya tersenyum dan mengangguk saat mendengarkan apa yang ia katakan, haha. 

Pada akhirnya, berlatih secara rutin tentu saja membuat kita lebih mahir dari sebelumnya. Saya sebenarnya tergolong terlambat dalam belajar bahasa Inggris, tapi karena adanya motivasi dan keinginan, saya bisa mengejar ketertinggalan saya. Di era globalisasi ini, saya rasa bahasa Inggris dan Mandarin adalah keperluan mendasar, karena itu sebaiknya kita juga belajar. Akan tetapi, jika seorang jenius seperti Mark Zuckerberg pun masih kesulitan dalam intonasi bahasa Mandarin, mungkin sebaiknya kita mulai dari bahasa Inggris dulu...

NB: Harap sabar dengan versi Bahasa Indonesia saya, sedang diupayakan supaya menjadi lebih baik lagi 😀

Ardian di siomay Acin, Pontianak, 2004.


No comments:

Post a Comment