Total Pageviews

Translate

Friday, February 2, 2018

The Chinese New Year

Chinese New Year is coming! As I grow older, it feels just like another holiday and I don't really bother about it anymore, but there were times when I was so into it. Allow me to reminisce and share with you how it was like in my hometown.

It was always cooler when I was a kid following my parents around to meet our relatives. I'd receive ang bao, the red envelopes with some amount of money in it, then I'd have some snack and soft drink before I hung out with my cousins. However, it was only when I grew up that I got a full grasp of how the Chinese New Year was celebrated.

The fireworks ritual on the eve of Chinese New Year.
Photo by Eday Ng.

It always started with a reunion dinner on the eve of the celebration. When my grandparents were still around, we'd gather there, a big family of uncles, aunties and cousins. On the dining table, there would be all the exquisite Chinese food, from pig trotter to sea cucumber cooked with bamboo shoots. While the dining and the talking happened, we'd hear people lighting up the fireworks.

This ritual musti be uniquely Pontianak: people would line up on both sides of Gajah Mada road and fire whatever they had as if it was a competition! This activity would last the whole night (and my wife, when she had her first and only Chinese New Year celebration in Pontianak so far, curiously asked me at around 10pm if they would ever stop playing). Came the next day (and it was the first day of the celebration with the duration of 15 days), we would visit and be visited by the relatives.

When friends came visiting in 2005. 

The second day onwards were reserved for friends. This, in my twenties, was easily the fun part of the celebration. I didn't go back to Pontianak that often since I started working in Jakarta and perhaps I went back only one time since I moved to Singapore, but I did have good times. I remember the 2005 celebration. We were so young then, just got out from college not so long ago to enter the society, wherever it was. Chinese New Year was like the reason for us to go back home, meet up and hang out again. So there I was, going from one house to another with Endrico and others.

The same event was repeated in 2006, when I quitted without any job, thinking that I'd give it a try in Singapore. What made it rather special was Soedjoko, a friend from Jakarta, whom came visiting. He already knew Parno and Endrico since Jakarta days, but it was through this trip that he got to know more friends of mine. We went to the houses of Heriyanto, Suhendi, Tedy Trisno, Pranoto, Gunarto, Khendy and called it a day at Angelia and Angelina's house.

The stop at Gunarto's house in 2006.

And that was the last time it felt fun, I guess. I don't recall why I never went back again until 2014, but the last time I was there, I was a married man with a child and so were many of my friends. It wasn't the same anymore and gone were the days when we could just hang out and spend the whole day together. Come to think of it, that may be the reason why I'm very reluctant to go back to Pontianak for Chinese New Year celebration these days.

By the way, you did notice that I mentioned it would last for 15 day, didn't you? The last few days were the days the dragon appeared. Apart from lion dance, we had dragon dance, too. The mighty dragon was long enough for everybody from all races, be it Chinese, Dayak or Malay, to join in and play. We might be of different origins, but once a year, in this festive season, we had this spectacular view of racial harmony and it was a beautiful sight to behold...

The dragon dance!
Photo by Rudy Santyoso.


Tahun Baru Cina

Tahun Baru Cina akan segera tiba! Seiring dengan bertambahnya usia, hari raya ini kian terasa seperti liburan biasa dan cenderung saya abaikan, namun ada suatu masa dimana saya bersuka-cita menyambutnya. Izinkan saya berbagi cerita tentang bagaimana Tahun Baru Cina biasanya dirayakan di Pontianak

Perayaan ini lebih berkesan ketika saya masih seorang bocah yang mengikuti orang tua saya berkunjung ke rumah sanak-saudara. Saya menerima ang pao, amplop merah yang berisi uang, lantas menikmati kudapan dan minuman soda sebelum bermain bersama para sepupu. Setelah merayakannya selama bertahun-tahun, perlahan-lahan saya mulai memahami rangkaian acara sepanjang Tahun Baru Cina.

Parno dan Endrico di malam Tahun Baru Cina 2006. 

Di malam sebelum hari perayaan, kita selalu berkumpul di rumah keluarga yang paling senior. Di kala kakek dan nenek masih hidup, kita selalu makan malam di sana, berkumpul bersama keluarga besar mulai dari paman, bibi dan sepupu. Makanan yang disajikan bukanlah hidangan sehari-hari, melainkan menu istimewa mulai dari kaki babi sampai teripang yang dimasak dengan rebung. Kemudian, selagi semua bersantap dan berbincang, suara petasan dan kembang api terdengar di luar rumah. 

Ritual ini sepertinya hanya ada di Pontianak: lautan manusia membentuk dua kubu yang berseberangan di jalan Gajah Mada dan saling menembakkan kembang api bagaikan kompetisi! Aktivitas ini bisa berlangsung semalam suntuk, sampai-sampai istri saya yang kebetulan ikut serta merayakan Tahun Baru Cina pertamanya di Pontianak pun bertanya kira-kira pada jam 10 malam, sampai kapan sebenarnya mereka baru akan berhenti menyalakan kembang api. Kemudian, ketika hari esok tiba, mulailah perayaan tahun baru yang akan berlangsung selama 15 hari. Hari pertama biasanya diisi dengan acara kunjungan keluarga.

Sylvia dan pasangan saat berkunjung ke rumah Anni, tahun 2005.

Di hari kedua, barulah kita mengunjungi teman-teman. Ketika saya berumur dua puluhan, ini adalah hari yang paling ditunggu. Walau saya jarang pulang ke Pontianak sejak bekerja di Jakarta (dan lebih jarang lagi setelah pindah ke Singapura), saya ingat betapa berkesannya Tahun Baru Cina, misalnya di tahun 2005. Ketika itu kita masih teramat sangat muda, baru lulus kuliah dan mulai menjajaki dunia kerja, baik di Pontianak, Jakarta maupun daerah lainnya. Tahun Baru Cina adalah saat dimana kita pulang ke kampung halaman, bertemu dan berkumpul lagi, jadi di sanalah saya berada, berkunjung dari rumah ke rumah bersama Endrico dan teman-teman lain. 

Saya juga pulang di tahun 2006, terutama karena saat itu saya berhenti kerja dan berpikir untuk mencoba peruntungan saya di Singapura setelah Tahun Baru Cina. Yang membuat tahun ini sedikit berbeda adalah kunjungan Soedjoko, seorang teman dari Jakarta. Dia sudah kenal dengan Endrico dan Parno sejak saya bekerja di Jakarta, namun lewat kunjungan inilah dia berkenalan dengan teman-teman saya yang lain. Sama seperti tahun sebelumnya, kita bertemu dari rumah ke rumah, kali ini ke tempat Heriyanto, Suhendi, Tedy Trisno, Pranoto, Gunarto, Khendy dan Angelia/Angelina.

Dari kiri atas: Soedjoko, Endrico, Angelina dan Jimmy.
Bawah: Angelia. 

Dan mungkin itu terakhir kalinya Tahun Baru Cina terasa menyenangkan. Saya tidak ingat kenapa saya tidak pernah pulang lagi hingga tahun 2014 untuk merayakannya, tapi ketika saya kembali, saya sudah menikah dan memiliki seorang anak. Demikian juga halnya dengan teman-teman, saat itu banyak yang sudah berkeluarga. Suasananya terasa tidak sama dan kita tidak lagi bisa berkumpul seharian seperti dulu. Kalau dipikirkan lagi, mungkin itu alasannya kenapa saya kini enggan pulang untuk merayakan Tahun Baru Cina di Pontianak. 

Oh ya, anda perhatikan bahwa saya sempat menyinggung tentang durasi 15 hari dari perayaan ini? Berapa hari terakhir diisi dengan kemunculan naga. Selain tarian barongsai atau singa, Tahun Baru Cina juga diisi dengan tarian naga. Sang naga terkadang luar biasa panjang, cukup bagi semua dari berbagai suku untuk berpartisipasi. Ya, sebagai bangsa Indonesia, kita bisa saja berasal dari suku Tionghoa, Dayak, Melayu dan lain-lain, tapi sekali dalam setahun, setidaknya pada acara yang gembira ini, kita bisa menyaksikan pemandangan hidup bertoleransi para anak bangsa yang majemuk...

Tahun baru 2014 di Pontianak. 

No comments:

Post a Comment