Total Pageviews

Translate

Sunday, February 11, 2018

The First Trip To China

Just in case the title got you wondering, the holiday to Macau, Zhuhai, Guangzhou, Shenzhen and Hong Kong was my parents first trip to China, not mine. My first trip happened three years earlier in 2009 and the recent article about Ferlin got me reminiscing about those days in Nanning again. It was such an odd destination for the first time visitors to China. Initially, when I heard of it, I thought Yani had mispronounced it and I assumed she was referring to the more famous Nanjing, but no, she really meant it.

My sister-in-law went there for a student exchange programme, so we went there to visit her. We took our time and flew from Kuala Lumpur to Guangzhou, therefore Baiyun International Airport was my first impression of China. It was unbelievably huge, but the very short time we were there was marred by a small incident. It could be a luggage arrangement went wrong or I simply misunderstood things in Chinese, but as as we needed to change from international to domestic flight, we collected our luggage and rushed for the connecting flight. During the luggage check, the officer confiscated the liquid stuff, so after kissing our Bango brand sweet soy sauce goodbye, we flew to Nanning.

The night time in Nanning, not very far from Guangxi Arts Institute. 

After seeing how grand Guangzhou airport was, the one in Nanning paled in comparison. It was tiny, but when we stepped outside, we were immediately reminded again how spacious China was. This was in year 2009 and Nanning wasn't even the most talked-about city in China, but yet it already looked much better than Jakarta. Always a city man, I was amazed by its rapid development and how everything in China seemed to be bigger and wider than anywhere else in the world!

We stayed few days in Nanning, mostly visiting Guangxi Arts Institute where Leny was studying. We had a glance at the dormitories, classrooms, canteen and auditorium. Then of course I had a bowl of Guilin rice noodles or two. It was a famous local delicacy, but it did take some time to enjoy it. Leny also brought us from her campus to Walmart on foot. We went to the zoo as well. By the time we went to railway station for the second time (the first time was to check the timing and buy the train ticket), we made our way to Guilin.

We took a very old train and it was a five-hour ride on a hard bench. The train would often stop and vendors would come up to sell their goods. It was interesting to see how the little red book from Chairman Mao was still a hot commodity that found a lot of buyers.

Yani and Leny, dressing up as what I suspected to be the Zhuang Princesses. The Zhuang people are largest minority China and they live in Guangxi.

Guilin always gave me the impression of Jakarta in the 80s. It had an old and tiring atmosphere in the air, but of course we didn't visit the city just for that. What famous here was the scenery. The Reed Flute Cave (芦笛岩) was great. It was filled up with stalactites and stalagmites, artificially lit and, this being a Chinese cave, each shape of the rock formation was named in a highly imaginative way! Apart from that, we also had a boat ride to see the Elephant Trunk Hill (象鼻山). Believe it or not, the Chinese was so creative in naming such a natural wonder that it got me thinking, what if it was a real giant elephant that dipped its trunk to drink from the river?

Then there was Yangshuo. If I had to single out the most memorable scenery in this trip, it must be the Li river cruise in Yangshuo. The karst mountains that surrounded the river was beautiful. That's when I actually realized why the mountains in Chinese painting was drawn in such a weird looking shape. Apparently it was real and the inspiration came from here. That day, when we were slowly cruising the river against the wind in the afternoon, was definitely a moment to remember.

My ex-colleague Benjamin Ho once jokingly said, the places I went was for old folks. He wasn't exactly wrong. Based on what I heard from people around me, China isn't a popular destination for Southeast Asian adults below 60 years old, but it is surely not a bad place to visit. It's a big country with a lot to offer. I myself have my fair share of wish list and it includes Xinjiang and Yunnan, so yeah, don't be discouraged but go and visit China, guys!

Yani, Leny and the Elephant Trunk Hill at the back. 


Perjalanan Pertama Ke Cina

Kalau anda pernah membaca kisah serupa sebelumnya di roadblog101.com, perlu saya jelaskan bahwa liburan ke Macau, Zhuhai, Guangzhou, Shenzhen dan Hong Kong adalah perjalanan pertama orang tua saya ke Cina. Bagi saya sendiri, petualangan perdana ini terjadi tiga tahun sebelum saya berangkat bersama mereka. Tulisan saya tentang Ferlin membuat saya teringat dengan kota Nanning lagi dan betapa kota tersebut adalah tujuan yang tidak lazim bagi mereka mengunjungi Cina untuk pertama kalinya. Ketika saya mendengar tentang kota ini, saya sempat mengira bahwa yang dimaksudkan Yani adalah kota Nanjing yang lebih sering terdengar, tapi ternyata dia tidak salah sebut. 

Adik ipar saya Leny mengikuti program pertukaran pelajar, jadi kita ke sana mengunjunginya. Kita terbang dari Kuala Lumpur ke Guangzhou, jadi kesan pertama saya tentang Cina adalah Bandara Internasional Baiyun. Lapangan terbang di Guangzhou ini luar biasa besar, tapi saya mengalami sedikit masalah sewaktu berada di sana. Karena harus berganti dari penerbangan internasional ke domestik, kita mengambil bagasi dan bergegas mengejar penerbangan berikutnya. Ketika koper diperiksa, barang-barang yang mengandung cairan pun disita. Setelah kita berpisah dengan kecap manis cap Bango, barulah kita berangkat ke Nanning.

Yani di Petronas Towers, Kuala Lumpur, sewaktu kita transit dalam perjalanan menuju Cina. 

Setelah melihat betapa megahnya bandara di Guangzhou, lapangan terbang Nanning terlihat kecil dan sempit. Meskipun demikian, begitu kita menuju kota, segera terlihat betapa luasnya Cina. Ini adalah tahun 2009 dan Nanning bukanlah kota yang popular bagi turis, namun saat itu pun kotanya sudah terlihat lebih maju dari Jakarta. Sebagai wisatawan yang lebih menyukai kota modern, saya kagum dengan cepatnya perkembangan di sana. Segala sesuatu di Cina tampak lebih besar, lebar dan luas dari negara-negara lain di dunia ini! 

Kita tinggal beberapa hari di Nanning dan sering berkunjung ke Institut Seni Guangxi, tempat Leny kuliah. Di situ kita berkesempatan untuk melihat asrama, kelas, kantin dan auditorium kampus serta kehidupan mahasiswa di sana. Saya mencicipi Guilin mifen (semacam kwetiau atau mie), makanan khas di sana. Kalau ditanya enak atau tidak, saya rasa perlu penyesuaian untuk menikmatinya, hehe. Kita berjalan kaki dari kampus ke Walmart, naik bis ke kebun binatang dan, sewaktu kita pergi ke stasiun kereta api untuk kedua kalinya (pertama kita ke sana adalah untuk membeli tiket), kita berangkat ke kota Guilin.

Perjalanan ke Guilin ditempuh dengan kereta tua yang memakan waktu lima jam. Keretanya sering berhenti dan para penjaja dagangan pun naik untuk berjualan. Satu hal unik yang saya amati adalah betapa larisnya buku merah Mao Zedong. Orang-orang di daerah kecil sepertinya masih menaruh minat besar pada pemimpin mereka ini.

Sore hari di Guilin, setelah melihat Bukit Belalai Gajah. 

Guilin tampak seperti Jakarta di tahun 80an, namun ada kesan bahwa kota ini sudah tua dan menembus zaman. Yang menarik di sana adalah wisata alam yang menakjubkan. Kita mengunjungi Gua Seruling Buluh yang penuh dengan stalaktit dan stalakmit. Gua ini dikelola dengan baik. Tata cahaya dan warna lampunya memberikan nuansa klasik pada setiap bentuk stalaktit yang unik dan penuh cerita ini. Selain itu, kita juga naik kapal mengelilingi Bukit Belalai Gajah. Satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah betapa tingginya daya khayal orang Cina dalam memberikan nama. Ketika saya melihatnya, saya jadi berpikir, bagaimana seandainya bukit ini dulunya adalah gajah raksasa yang mencelupkan belalainya untuk meminum air sungai? 

Dari Guilin, kita juga mengunjungi Yangshuo. Jika saya harus menyebutkan satu pemandangan terindah dari perjalanan pertama ke Cina ini, maka itu adalah saat kita menyusuri sungai Li di Yangshuo. Pegunungan yang mengelilingi sungai tersebut sangat memukau dan membuat saya menyadari kenapa gunung di lukisan Cina seringkali digambar dengan bentuk yang berbeda dengan gambar di Indonesia. Ternyata dari sinilah inspirasinya berasal. Gunung seperti lukisan Cina ini bukanlah imajinasi belaka, melainkan benar-benar ada. Di hari itu, ketika kita menaiki perahu mengikuti aliran sungai sambil dibelai oleh angin semilir, adalah hari yang indah dan sungguh pantas dikenang. 

Mantan teman sekantor saya, Benjamin Ho, pernah berkata sambil bercanda bahwa tempat yang saya kunjungi ini lebih cocok untuk wisata orang tua. Pendapatnya tidak sepenuhnya keliru. Dari apa yang saya dengar dari sekeliling saya, Cina bukanlah negara tujuan wisata yang populer bagi orang Asia Tenggara yang berumur kurang dari 60 tahun, namun sejujurnya Cina cukup seru untuk dikunjungi. Jangan lupa bahwa ini adalah negara besar yang menawarkan begitu banyak hal, mulai dari pemandangan sampai budaya. Saya sendiri masih memiliki tempat-tempat di Cina yang ingin saya kunjungi, misalnya Yunnan dan Xinjiang, jadi bagi yang berminat, jangan berkecil hati untuk mengunjungi Cina!

Leny, sewaktu kita menyusuri Sungai Li di Yangshuo.


No comments:

Post a Comment