Imagine this: you have a staff member who knows the system inside out and he suddenly resigns. There are always two schools of thought when this happens. I used to think, "Oh no, what will happen next, since the guy was so critical to the system?" So, when my boss said we would be fine, it sounded like management talk—the politically right thing to say, but from my perspective, I failed to see how we were actually going to be fine.
Until recently. To be frank, I don't think it was a one-time observation, but more of a gradual comprehension. If you recall the X Factor, I was a nervous wreck. It was silly, because in hindsight, the worst didn't happen. And a few years and many more experiences later, it occurred to me one day that the company would do just fine. I had worried so much, only to realize that the system was robust enough to last. Granted, there'd be difficulties and probably no system enhancements for a few months, but the company would survive until a new guy came to fill in the gap.
I remember talking to my one-down when this realization came to mind. We bumped into each other in the hallway and I just told her, "Do you ever notice that perhaps we aren't that important? Nobody is actually indispensable." The idea was a bit premature then and I didn't elaborate further. Must have left her confused at that time. She would have thought, "What's with the sudden remark that came out of the blue without any particular context?" Haha.
But the idea of being indispensable stayed in my mind. It was something to ponder, to be looked at from different angles, and as far as I'm concerned, there were two. The first was from the perspective of the person who managed the resignation. It turned out that a healthy dose of worrying was fine, because that meant I cared and wanted to ensure the continuity was taken care of. What I had to remember was the fact that an application was never a one-man show and the system was built to last. Hence, the whole world wouldn't crumble just because one person left.
The second one was the forgotten fact that two could actually play the game. If a staff member could resign, the company could also decide to part ways with the employee. Stay long enough in a company and you'd see that this is equally real. Note to self: we are all dispensable!
In an environment where people constantly come to us for answers, it's easy to overestimate our importance. The moment we think we are irreplaceable, we become vulnerable. In reality, our existence as an employee is always a delicate balance between knowing the system will outlast us and the value of our contribution that makes us worthwhile to the company.
Ultimately, being indispensable is a myth we often tell ourselves. And yes, knowing that the company will survive resignations and we are replaceable can, indeed, be discouraging. However, on the flip side, it is also a great reminder that we should never take things for granted.
As Paul sang in Live and Let Die, "When you got a job to do, you gotta do it well."
![]() |
| Just because this guy is wearing a suit doesn't mean he's indispensable. |
Mitos Tak Tergantikan
Bayangkan ini: Anda memiliki seorang anggota tim yang sangat memahami sistem luar-dalam, lalu dia tiba-tiba mengundurkan diri. Selalu ada dua sudut pandang ketika hal ini terjadi. Saya dulu berpikir, "Aduh, apa yang akan terjadi selanjutnya, padahal orang ini sangat krusial bagi sistem?" Jadi, ketika atasan saya bilang bahwa kita akan baik-baik saja, itu terdengar seperti sekadar omongan manajemen—hal yang secara politis benar untuk dikatakan. Namun dari sudut pandang saya, terus-terang saya gagal paham bagaimana kita bisa baik-baik saja.
Sampai baru-baru ini. Jujur saja, saya pikir ini bukanlah sebuah pengamatan instan, melainkan pemahaman yang muncul secara bertahap. Jika Anda ingat tentang cerita faktor X, saya sempat sangat panik. Itu konyol, karena jika diingat-ingat kembali, hal terburuk ternyata tidak terjadi. Dan beberapa tahun serta banyak pengalaman kemudian, suatu hari terlintas di benak saya bahwa perusahaan akan baik-baik saja. Dari begitu banyak kekhawatiran yang pernah melanda, saya menyadari bahwa sistem yang ada cukup tangguh untuk bertahan. Memang akan ada kesulitan dan mungkin tidak ada fitur baru selama beberapa bulan, tetapi perusahaan akan tetap bertahan sampai ada orang baru yang datang menggantikan.
Saya ingat pernah berbicara dengan bawahan langsung saya ketika kesadaran ini muncul. Kami berpapasan di koridor dan saya langsung berkata padanya, "Pernah tidak kamu merasa kalau kita ini mungkin tidak sepenting yang kita bayangkan? Tidak ada orang yang benar-benar tidak bisa digantikan." Gagasan itu masih agak mentah saat itu dan saya tidak menjelaskan lebih lanjut. Pasti dia pun sempat kebingungan dan berpikir, "Ada apa gerangan dengan ucapan mendadak yang keluar begitu saja tanpa konteks jelas ini?" Haha.
Namun, gagasan tentang menjadi seseorang yang tidak bisa digantikan itu terus mendekam di benak saya. Itu adalah sesuatu untuk direnungkan, untuk dilihat dari berbagai sudut pandang, dan sejauh yang saya pahami, ada dua sudut pandang. Yang pertama adalah dari perspektif orang yang mengelola pengunduran diri tersebut. Ternyata, sedikit rasa cemas itu wajar, karena itu berarti saya peduli dan ingin memastikan keberlangsungan sistem tetap terjaga. Yang harus saya ingat adalah fakta bahwa sebuah aplikasi tidak pernah dijalankan oleh satu orang saja dan sistem memang dibangun untuk bertahan lama. Oleh karena itu, dunia tidak akan runtuh hanya karena satu orang pergi.
Yang kedua adalah fakta yang sering terlupakan bahwa kedua belah pihak sebenarnya memiliki posisi yang sama. Jika seorang karyawan bisa mengundurkan diri, perusahaan juga bisa memutuskan hubungan kerja dengan karyawan. Tinggallah cukup lama di suatu perusahaan, maka Anda akan melihat bahwa hal ini sama nyatanya. Catatan untuk diri sendiri: kita semua bisa digantikan!
Di lingkungan di mana orang-orang terus-menerus datang kepada kita untuk mencari jawaban, sangat mudah untuk terlena dan merasa diri penting. Begitu kita berpikir bahwa kita tidak tergantikan, saat itulah kita menjadi rentan. Pada kenyataannya, keberadaan kita sebagai seorang karyawan tak ubahnya seperti di antara sistem yang akan bertahan lebih lama dari kita, dan nilai dari kontribusi kita yang membuat kita berharga bagi perusahaan.
Pada akhirnya, menjadi orang yang tidak tergantikan hanyalah sebuah mitos yang sering kita katakan pada diri sendiri. Dan ya, mengetahui bahwa perusahaan akan tetap bertahan ketika kita berhenti kerja dan kenyataan bahwa kita memang bisa digantikan tentu bisa membuat kita berkecil hati. Namun, di sisi lain, ini juga merupakan pengingat hebat bahwa kita tidak boleh pernah menganggap remeh segala sesuatu yang bisa kita kerjakan pada saat ini.
Seperti yang dinyanyikan oleh Sir Paul dalam Live and Let Die, "When you got a job to do, you gotta do it well."

No comments:
Post a Comment