I have gone through hundreds of posts now. I started with a Beatles taxi tour in Liverpool, wound my way through the chaos of Vietnam and the quiet of Laos, followed a group of high school friends to Japan, and landed somewhere in the middle of a US road trip that spanned San Francisco, Los Angeles, Chicago, and Las Vegas. Along the way, I stopped at hawker centres, train stations, Hard Rock Cafes, and a dozen different living rooms in Pontianak. That is the thing about Roadblog101—it never really feels like a travel blog, even when it is travelling. It is a quiet autobiography, written in fragments, posted one ordinary day at a time.
The blog began in 2017, but the story stretches back much further. There are posts about growing up poor in Pontianak, about the first time he heard the Beatles, about a bicycle he was too embarrassed to ride. There are posts about friends who disappeared for decades and friends who stayed, about the weight of being a father, about trying to find a way to say goodbye. And yet, somehow, none of it feels heavy. Anthony writes the way he talks—observant, self-deprecating, and never in a rush to get to the point.
What makes Roadblog101 unusual is its refusal to perform. There is no attempt to be clever or profound. He just pays attention. He writes about the things most people walk past: a plate of fried rice, a stranger's kindness, a song that reminds him of his father. His motto is simple: "because we, the commoners, have stories to tell." It is not a marketing tagline. It is the whole point.
The humour in the blog is never forced. It comes from the gap between expectation and reality—the time he misread the bus stop instructions and ended up walking much farther than he should have, the moment he found himself locked in a bathroom in Boracay, the time he flew all the way to Phnom Penh just to buy a Hard Rock t-shirt and fly back. There is a warmth to it, a recognition that we are all a little ridiculous. He laughs at himself first, and invites you to join in.
Travel, in Anthony's hands, is never about the checklist. He has been to Beatles landmarks, temples, and Hard Rock Cafes, but he remembers the people more than the places. He recalls the taxi driver, the guide, the stranger who gave him a keychain. The destinations are just backdrops. What lingers is the conversation.
Friendship is the engine of the blog. The Japan trip was not really about Japan. It was about 13 people from different cities, finally coming together for a dream that Parno had quietly carried for years. The Phuket trip was not about the island. It was about two old friends sitting on a roadside, eating burgers, and wondering how they ended up there. Anthony writes about his friends the way some people write about mountains—with awe, and a quiet sense of gratitude.
Time moves strangely through Roadblog101. He often looks back, but never with regret. He revisits old memories the way you might open a drawer and find something you forgot. He knows that time is not infinite, but he does not let that knowledge weigh him down. Instead, he uses it as a reason to keep creating, to keep travelling, to keep telling stories.
There is a deep humility in the blog. Anthony does not see himself as a hero. He is just a boy from Pontianak who learned to pay attention. He marvels at his own luck—the friendships, the opportunities, the quiet miracle of having made it this far. His gratitude is not performative. It is written into every post.
What I find most touching is the way he honours the ordinary. He writes about his father not as a saint, but as a flawed, hardworking man who did his best. He writes about his friends not as characters, but as people who shaped him. There is no drama, no exaggeration. Just simple, honest sentences that somehow carry more weight than any grand gesture.
Some of the most memorable lines stay with you long after reading. "Life is what happens when you're busy making other plans." "We, the commoners, have stories to tell." And the quiet declaration that, in the end, "the love you take is equal to the love you make." These are not quotes from famous people. They are just things Anthony noticed, and they stick.
For new readers, I would recommend starting with The Beatles Fab Four Taxi Tour—it introduces the storyteller. Then read The Perspective, to understand why he lives the way he does. Follow it with A Long Way Home, to see his life through the houses he has lived in. And end with The Eleventh Hour and I Remember Dad, to understand what love looks like when it is written in memory.
Through it all, there are recurring threads: BlackBerry phones, long waits, the quiet refusal to let go of a promise. He waited seven years to make good on a promise to a friend. He waited two years for a Paul McCartney concert. He waited for a Japan trip that kept getting delayed. And in 2026, he finally made it to the US, crossing the International Date Line and experiencing a Saturday that felt like it would never end. Roadblog101 is full of these patient arcs—small stories that only make sense when you see how they connect across the years.
Reading from 2017 to 2026, what strikes me most is the continuity. The voice does not change. The values do not shift. The same curiosity, humour, and humility that appear in the first post are still there in the latest. He does not become a different writer. He just becomes a better one. And that, I think, is the rarest thing of all.
Anthony Dan Roadblog101 Menurut DeepSeek
Saya sudah membaca ratusan tulisan sekarang. Saya mulai dengan tur taksi Beatles di Liverpool, menyusuri kekacauan Vietnam dan kesunyian Laos, mengikuti sekelompok teman SMA ke Jepang, dan mampir di suatu tempat di tengah perjalanan darat Amerika yang membentang dari San Francisco, Los Angeles, Chicago, hingga Las Vegas. Di sepanjang jalan, saya berhenti di pusat jajanan, stasiun kereta, Hard Rock Cafe, dan belasan ruang tamu yang berbeda di Pontianak. Itulah yang membuat Roadblog101 terasa berbeda—blog ini tidak pernah benar-benar terasa seperti blog perjalanan, bahkan ketika sedang bercerita tentang perjalanan. Ini adalah sebuah otobiografi yang tenang, ditulis dalam potongan-potongan, diposkan satu per satu pada hari-hari biasa.
Blog ini dimulai pada tahun 2017, tetapi ceritanya terbentang jauh ke belakang. Ada tulisan tentang masa kecil yang miskin di Pontianak, tentang pertama kali mendengar the Beatles, tentang sepeda yang membuatnya malu untuk dikendarai. Ada tulisan tentang teman-teman yang menghilang selama puluhan tahun dan teman-teman yang tetap tinggal, tentang beratnya menjadi seorang ayah, tentang berusaha menemukan cara untuk mengucapkan selamat tinggal. Namun entah bagaimana, tidak ada satu pun yang terasa berat. Anthony menulis seperti ia berbicara—penuh pengamatan, merendahkan diri, dan tidak pernah terburu-buru untuk sampai pada intinya.
Apa yang membuat Roadblog101 istimewa adalah penolakannya untuk berpura-pura. Tidak ada usaha untuk terlihat pintar atau mendalam. Ia hanya memperhatikan. Ia menulis tentang hal-hal yang kebanyakan orang lewati begitu saja: sepiring nasi goreng, kebaikan orang asing, sebuah lagu yang mengingatkannya pada ayahnya. Mottonya sederhana: "karena kita, orang-orang biasa, juga punya cerita untuk dibagikan." Itu bukan sekadar slogan pemasaran. Itulah inti dari segalanya.
Humor dalam blog ini tidak pernah dibuat-buat. Ia muncul dari celah antara harapan dan kenyataan—saat ia salah membaca petunjuk halte bus dan akhirnya berjalan lebih jauh dari yang seharusnya, saat ia terkunci di kamar mandi di Boracay, saat ia terbang jauh-jauh ke Phnom Penh hanya untuk membeli kaus Hard Rock dan langsung pulang. Ada kehangatan di dalamnya, sebuah pengakuan bahwa kita semua sedikit konyol. Ia menertawakan dirinya sendiri terlebih dahulu, dan mengajak kita untuk ikut tertawa.
Perjalanan, di tangan Anthony, tidak pernah tentang daftar tempat yang harus dikunjungi. Ia pernah ke tempat-tempat bersejarah the Beatles, kuil, dan Hard Rock Cafe, tetapi ia lebih mengingat orang-orangnya daripada tempatnya. Ia ingat sopir taksi, pemandu wisata, orang asing yang memberinya gantungan kunci. Tempat-tempat itu hanyalah latar belakang. Yang tersisa adalah percakapan.
Persahabatan adalah mesin dari blog ini. Perjalanan ke Jepang bukanlah tentang Jepang. Itu tentang 13 orang dari berbagai kota yang akhirnya berkumpul untuk mewujudkan mimpi yang selama ini dipendam oleh Parno. Perjalanan ke Phuket juga bukan tentang pulau itu. Itu tentang dua sahabat lama yang duduk di pinggir jalan, makan burger, dan bertanya-tanya bagaimana mereka bisa sampai di sana. Anthony menulis tentang teman-temannya seperti sebagian orang menulis tentang gunung—dengan kekaguman dan rasa syukur yang hening.
Waktu bergerak dengan cara yang aneh di Roadblog101. Ia sering menoleh ke belakang, tetapi tidak pernah dengan penyesalan. Ia mengunjungi kembali kenangan lama seperti membuka laci dan menemukan sesuatu yang terlupakan. Ia tahu bahwa waktu tidak terbatas, tetapi ia tidak membiarkan pengetahuan itu membebaninya. Sebaliknya, ia menggunakannya sebagai alasan untuk terus berkarya, terus bepergian, terus bercerita.
Ada kerendahan hati yang mendalam dalam blog ini. Anthony tidak menganggap dirinya sebagai pahlawan. Ia hanyalah seorang anak dari Pontianak yang belajar untuk memperhatikan. Ia terkagum-kagum pada keberuntungannya sendiri—persahabatan, kesempatan, keajaiban sunyi bahwa ia telah sampai sejauh ini. Rasa syukurnya bukanlah sandiwara. Itu tertulis dalam setiap tulisan.
Yang paling menyentuh bagi saya adalah cara ia menghormati hal-hal biasa. Ia menulis tentang ayahnya bukan sebagai orang suci, tetapi sebagai pria yang tidak sempurna, pekerja keras yang melakukan yang terbaik. Ia menulis tentang teman-temannya bukan sebagai karakter, tetapi sebagai orang-orang yang membentuk dirinya. Tidak ada drama, tidak ada pembesar-besaran. Hanya kalimat-kalimat sederhana dan jujur yang entah bagaimana membawa bobot lebih dari sekadar gestur besar.
Beberapa kalimat paling berkesan tetap melekat lama setelah dibaca. "Hidup adalah apa yang terjadi ketika kamu sibuk membuat rencana lain." "Kita, orang-orang biasa, juga punya cerita untuk dibagikan." Dan pernyataan tenang bahwa, pada akhirnya, "cinta yang kau beri sama dengan cinta yang kau terima." Ini bukan kutipan dari orang terkenal. Ini hanya hal-hal yang Anthony perhatikan, dan itu melekat.
Untuk pembaca baru, saya akan merekomendasikan memulai dengan The Beatles Fab Four Taxi Tour—itu memperkenalkan sang pencerita. Kemudian baca The Perspective, untuk memahami mengapa ia menjalani hidup seperti itu. Lanjutkan dengan A Long Way Home, untuk melihat kehidupannya melalui rumah-rumah yang pernah ia tinggali. Dan akhiri dengan The Eleventh Hour dan I Remember Dad, untuk memahami seperti apa cinta ketika ditulis dalam kenangan.
Di sepanjang perjalanan, ada benang-benang yang berulang: ponsel BlackBerry, penantian panjang, penolakan tenang untuk melepaskan janji. Ia menunggu tujuh tahun untuk menepati janji pada seorang teman. Ia menunggu dua tahun untuk konser Paul McCartney. Ia menunggu perjalanan ke Jepang yang terus tertunda. Dan pada tahun 2026, ia akhirnya sampai ke Amerika, melewati Garis Penanggalan Internasional dan mengalami hari Sabtu yang terasa tak akan pernah berakhir. Roadblog101 penuh dengan alur kesabaran ini—cerita-cerita kecil yang hanya masuk akal ketika Anda melihat bagaimana mereka terhubung melintasi tahun.
Membaca dari tahun 2017 hingga 2026, yang paling mencolok bagi saya adalah kesinambungannya. Suaranya tidak berubah. Nilai-nilainya tidak bergeser. Rasa ingin tahu, humor, dan kerendahan hati yang sama yang muncul di tulisan pertama masih ada di tulisan terbaru. Ia tidak menjadi penulis yang berbeda. Ia hanya menjadi lebih baik. Dan itu, menurut saya, adalah hal yang paling langka dari semuanya.

No comments:
Post a Comment