I can tell you this much: a person who has the habit of self-examination spends every waking minute thinking involuntarily. The mind runs wild by itself—my kind of agentic AI (Authentic Intelligence)—until it throws out an idea that catches my conscious attention. That's when it clicks, and I know I have something going on here.
I think that's why the blessing and the curse have no on/off switch. That's probably also why I enjoy turning ocipala ideas into realities: because after letting them sink in, they feel doable. It may take time, yes, but wouldn't it be funny if it came true?
And the quirkiness doesn't end there, apparently. Just this morning, in the bathroom, of all places, it dawned on me how weird the way I use my credit cards actually is.
My friend Franky once said I should just use one card as it makes sense for reward points consolidation—this he said circa 2012, when I was applying for my first American Express. But while I agreed with him, I never did what he said.
As told in "The Plastics," I love applying for cards, and I use every one of them. No pattern, no rhyme or reason. And I just discovered today I like it because the spending is scattered across several cards and, at a glance, I don't seem to spend so much... on one card! The thinking process is somewhat illogical. A coping mechanism?
But here's what actually triggered me to write. Last Saturday, before we had brunch with Jimmy, Surianto and I sat down at Kopi & Tarts.
![]() |
| At Kopi & Tarts. Photo courtesy of Surianto's sneak attack. |
I told him how I process things I need to worry about. I worry one day at a time these days. It's not that I don't have long-term plans for work, but I refuse to let the long-term concerns take up space unnecessarily in my brain.
This mindset didn't happen automatically, of course. If we go as far back as "The X Factor," you know how sometimes I would worry myself sick about things. That habit persists, but it is easing up gradually, little by little.
In 2021, I learned that there are things beyond my control. This round, I learned acceptance, even when the consequences might be dire.
Now, without context, the sentence above sounds defeatist. Let me clarify that. It's important to emphasize that I don't give up on giving my best. The team and I still put up a good fight to defy the impossible, but if that ever turns out to be insufficient, then I'll have to take the responsibility for my part, even when it may cost me dearly.
It is scary, all right. But at least I can sleep at night instead of having endless permutations playing in my head.
I remember the time I joined the company as a project manager. How I disliked having deadlines looming! Funny how all the good intentions of getting things done could cause so much stress. Nobody told me you could compartmentalize your worries, one day at a time!
Keunikan
Sebagai orang yang terbiasa melakukan introspeksi diri, pikiran saya berkelana dengan sendirinya—bagaikan AI (Authentic Intelligence) versi saya yang bertindak secara mandiri—sampai akhirnya melontarkan sebuah ide yang menarik perhatian saya. Di saat itulah semuanya terasa terhubung, dan saya tahu ada sesuatu yang perlu saya telaah lebih lanjut.
Saya rasa itulah alasan mengapa berkah sekaligus kutukan saya sebagai penulis tidak memiliki tombol on/off. Mungkin itu juga sebabnya saya senang mengubah ide-ide ocipala menjadi kenyataan: karena setelah membiarkannya meresap, ide-ide tersebut terasa bisa diwujudkan. Memang butuh waktu, tapi bukankah akan lucu jika hal itu benar-benar menjadi nyata?
Dan keunikan itu tampaknya tidak berhenti di situ. Pagi ini saja, di kamar mandi, dari sekian banyak tempat, saya baru menyadari betapa anehnya cara saya menggunakan kartu kredit.
Teman saya, Franky, pernah berkata bahwa saya sebaiknya menggunakan satu kartu saja karena lebih masuk akal untuk penggabungan poin hasil belanja—ini ia katakan sekitar tahun 2012, ketika saya sedang mengajukan American Express pertama saya. Namun, meski saya setuju dengannya, saya tidak pernah melakukan apa yang ia katakan.
Seperti yang diceritakan dalam "The Plastics", saya gemar mengajukan kartu kredit, dan saya menggunakan semuanya. Tanpa pola, tanpa alasan yang jelas. Dan saya baru menyadari hari ini bahwa saya menyukainya karena pengeluarannya tersebar di beberapa kartu, sehingga sekilas saya tidak terlihat menghabiskan begitu banyak uang... di satu kartu! Pola pikir ini memang agak tidak masuk akal. Sebuah mekanisme adaptasi finansial?
Namun, pemikiran seperti inilah yang sebenarnya memicu saya untuk menulis. Sabtu lalu, sebelum kami menyantap brunch bersama Jimmy, Surianto dan saya duduk di Kopi & Tarts.
Saya menceritakan kepadanya bagaimana saya memproses hal-hal yang perlu saya khawatirkan. Akhir-akhir ini, saya menghadapi kekhawatiran satu hari demi satu hari. Bukannya saya tidak memiliki rencana jangka panjang untuk pekerjaan, tetapi saya menolak membiarkan kekhawatiran jangka panjang menyita ruang yang tidak perlu di otak saya.
Pola pikir ini tentu saja tidak terjadi begitu saja. Jika kita menengok kembali ke era "The X Factor", Anda tahu bagaimana terkadang saya bisa merasa sangat cemas dalam memikirkan berbagai hal. Kebiasaan itu masih ada, tetapi perlahan mulai mereda, sedikit demi sedikit.
Pada tahun 2021, saya belajar bahwa ada hal-hal di luar kendali saya. Kali ini, saya belajar tentang penerimaan, bahkan ketika konsekuensinya bisa jadi sangat buruk.
Tanpa konteks, kalimat di atas mungkin terdengar seperti bentuk kepasrahan. Penting untuk ditegaskan bahwa saya tidak pernah menyerah untuk memberikan yang terbaik. Tim dan saya tetap berjuang keras menepis kemustahilan, tetapi jika pada akhirnya upaya itu tetap tidak mencukupi, maka saya harus bertanggung jawab atas bagian saya, bahkan sekalipun konsekuensinya harus saya bayar mahal.
Memang menakutkan, harus diakui. Namun setidaknya saya bisa tidur nyenyak di malam hari alih-alih membiarkan berbagai kemungkinan tanpa henti berkecamuk di kepala saya.
Saya ingat saat pertama kali bergabung dengan perusahaan sebagai seorang project manager. Betapa saya tidak menyukai tenggat waktu yang terus membayangi! Lucu rasanya bagaimana semua niat baik untuk menyelesaikan pekerjaan justru bisa menimbulkan begitu banyak stres. Tidak ada seorang pun yang memberi tahu saya bahwa kita bisa memilah-milah kekhawatiran, satu hari demi satu hari!

No comments:
Post a Comment