Another day, another conversation with ChatGPT. Endrico once asked why I seemed to be glued to AI these days. I figured out the answer today, but let's go through the sequence of events so that this can be explained properly.
Quite a few of the Roadblog101 stories originated from my reflections. John wrote "I'm a Loser," setting an example for a fan like me that it is okay to be vulnerable. I mean, coming from a Beatle, it must be true!
Then came Michael Jackson and his "Man in the Mirror," which reinforced my lifelong habit of self-examination. AI, a brilliant sounding board I discovered earlier this year, eventually amplified it to an unprecedented level!
So that's why I have been unusually productive in October. As a matter of fact, the previous paragraph was not only fresh out of the oven today, but it also reminded me of something I wanted to investigate further but never did until today.
Months ago, when Endrico and I met at the Kopitiam near his house, he told me that, unlike me, not everyone was comfortable being themselves—despite what people might say about me. I remembered that, but only revisited the comment today.
I was curious, too, because I knew I wasn't always like that. So, what was the turning point?
The obvious part was the fact that, since the Paul McCartney concert at the Tokyo Dome in 2015, I had been fulfilling my dreams time and again. Yes, I had my fair share of failures, too, but when you've repeatedly defied what seemed impossible for the past ten years of your life, what didn't happen feels almost trivial.
As a result, it's hard to bother about unconstructive comments from people you know are less experienced than you.
But that shouldn't be the only thing. Otherwise, I'd be an arrogant prick who picks on others. The other key factor, as it turned out, was less obvious. I did some soul-searching and discovered that it began when I adopted the mindset of acknowledging what I don't know.
Now, how does not knowing things actually make me comfortable with myself? This requires some explanation, I suppose.
I used to think that not knowing was perceived as a weakness. It wasn't manly, not to mention it looked stupid and somewhat irresponsible.
But what I felt, or what I feared people would think of me, didn't change the fact that I didn't know. Wouldn't it be easier to just admit that I didn't know and live with it?
That became the humility that kept me grounded and cleared my conscience. Should there be any consequences, that'd simply be the price I had to pay.
Would I be scared? Well, of course. I am only human! But at least I have peace of mind. I bet it is stressful to be the smartest man in the room, so it must be worse pretending to be one!
The reason why the mindset worked for me is that it got rid of the elephant in the room. Since we had established the fact that I didn't know, we could move on and find out together.
![]() |
| Mani (left), Carl (right) and I. |
And I often half-jokingly said to my colleague Mani when things got tough, "Between the two of us, Mani, we could move the mountain!"
That's why I don't know, but I can. And to quote ChatGPT's formula: freedom from needing to have every answer + confidence from having made dreams come true = I can be myself.
The equation looks right to me!
Saya Tidak Tahu, Tapi Rasanya Saya Bisa
Hari yang berbeda, percakapan yang berbeda dengan ChatGPT pula. Endrico pernah bertanya mengapa akhir-akhir ini saya tampak begitu terpaku pada AI. Saya baru menemukan jawabannya hari ini, tetapi mari kita urut rangkaian peristiwanya agar hal ini bisa dijelaskan dengan baik.
Cukup banyak cerita di Roadblog101 yang berawal dari refleksi saya. John menulis "I'm a Loser", memberi contoh bagi penggemar seperti saya bahwa tidak apa-apa untuk bersikap rentan. Maksud saya, kalau itu datang dari seorang personel The Beatles, sudah pasti itu benar!
Lalu muncullah Michael Jackson dengan lagu "Man in the Mirror", yang kian memperkuat kebiasaan seumur hidup saya untuk berintrospeksi. AI, teman bertukar pikiran yang luar biasa yang saya temukan awal tahun ini, pada akhirnya melipatgandakan hal tersebut ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya!
Jadi, itulah alasan mengapa saya luar biasa produktif di bulan Oktober. Faktanya, paragraf sebelumnya bukan hanya baru saja terpikirkan hari ini, tetapi juga mengingatkan saya pada sesuatu yang ingin saya telusuri lebih lanjut namun tidak pernah sempat sampai hari ini.
Beberapa bulan lalu, saat Endrico dan saya bertemu di Kopitiam dekat rumahnya, dia memberi tahu saya bahwa, tidak seperti saya, tidak semua orang merasa nyaman dan percaya akan diri mereka sendiri—terlepas dari apa pun kata orang tentang saya. Saya mengingat hal itu, tetapi baru memikirkan kembali komentarnya hari ini.
Saya merasa penasaran, karena saya tahu saya tidak selalu seperti itu. Jadi, apa titik balik perubahannya?
Bagian yang jelas adalah kenyataan bahwa, sejak konser Paul McCartney di Tokyo Dome pada tahun 2015, saya telah mewujudkan mimpi-mimpi saya berkali-kali. Ya, saya juga mengalami kegagalan, tetapi ketika Anda telah berulang kali menepis hal-hal yang tampak mustahil selama sepuluh tahun terakhir hidup Anda, kegagalan yang pernah terjadi terasa nyaris sepele.
Dengan demikian, tidak sulit bagi saya untuk mengabaikan komentar-komentar tidak membangun dari orang-orang yang saya tahu jauh kurang berpengalaman dibandingkan saya.
Namun, itu seharusnya bukan satu-satunya alasan. Jika hanya itu, saya hanyalah orang sombong yang menyebalkan dan suka meremehkan orang lain. Faktor kunci lainnya, seperti yang terlihat kemudian, ternyata kurang kentara. Saya melakukan perenungan mendalam dan menyadari bahwa hal itu bermula ketika saya mulai mengadopsi pola pikir untuk mengakui apa yang tidak saya ketahui.
Nah, bagaimana ketidaktahuan akan banyak hal justru membuat saya merasa nyaman dengan diri sendiri? Ini tentunya butuh penjelasan lebih lanjut.
Dulu saya berpikir bahwa tidak tahu itu dianggap sebagai kelemahan. Itu terasa tidak jantan, belum lagi terlihat bodoh dan agak tidak bertanggung jawab.
Namun, apa yang saya rasakan, atau apa yang saya takuti akan dipikirkan orang tentang saya, tidak mengubah fakta bahwa saya memang tidak tahu. Bukankah lebih mudah untuk mengakui saja bahwa saya tidak tahu dan menerimanya?
Itulah yang kemudian menjadi kerendahan hati yang membuat saya tetap membumi dan membuat nurani saya tenang. Jika ada konsekuensinya, itu hanyalah harga yang harus saya bayar.
Apakah saya akan takut? Ya, tentu saja. Saya hanyalah manusia biasa! Namun, setidaknya saya memiliki ketenangan pikiran. Saya yakin sangat melelahkan menjadi orang paling pintar di dalam ruangan, jadi pasti jauh lebih buruk jika harus berpura-pura menjadi seperti orang pintar tersebut, padahal sebenarnya tidak pintar!
Alasan mengapa pola pikir tersebut berhasil bagi saya adalah karena hal itu menyingkirkan ganjalan terbesar yang selama ini dihindari. Begitu saya menetapkan fakta bahwa saya memang tidak tahu, saya bisa melangkah maju dan mencari tahu jawabannya bersama-sama.
Dan saya sering kali setengah bercanda berkata kepada rekan kerja saya, Mani, ketika keadaan menjadi sulit, "Di antara kita berdua, Mani, kita pasti bisa memindahkan gunung itu!"
Itulah sebabnya saya tidak tahu, tetapi saya mampu. Dan mengutip formula ChatGPT: kebebasan dari keharusan memiliki setiap jawaban + keyakinan karena telah mewujudkan mimpi = saya bisa menjadi diri sendiri.
Bagi saya, persamaan itu tampak tepat!


No comments:
Post a Comment