Total Pageviews

Translate

Saturday, July 27, 2019

The Sports, Featuring Juventus Vs. Tottenham

If you've been following Roadblog101 for a while, you'll notice that I never talked about sports before. However, that doesn't mean I don't enjoy sport at all. Admittedly, I'm not a sporty type, but I used to play volley ball in high school. Looking back, I wouldn't see a better example of Darwin's theory of natural selection in a modern society than my inclusion in the team: they'd choose me only if they didn't have enough players, haha. I was an awful player that was barely able to serve the ball, so my friends were actually happier to have me outside the court, keeping scores for them.

While my participation was minimum or next to nothing, I don't mind watching sports from time to time. In fact, I loved watching Mike Tyson before he started biting ears. I also followed tennis when Steffi Graf ruled the game. I remember those unforgettable matches between Chicago Bulls and Utah Jazz in 1998. Then of course there was World Cup. I probably had started watching it since 1994, when Romário and Bebeto were playing, but the memories were rather conflicting because my earliest recollection of football was van Basten and Gullit from the late 80s.

Heading to the National Stadium with Muliady The. 

I happened to have some experiences with live games, too, since early age. While this might not be known by many, my hometown Pontianak actually hosted Indonesia Open 1989 and I got the chances to see the likes of Huang Hua and Xiong Guobao live in action. Prior to that, the Chinese badminton players had an up, close and personal session at Kartika Hotel and I seem to recall the legendary Yang Yang was there, too.

During the last year of high school, we had a soccer tournament. My classmates fashioned themselves after Juventus and named the team Lickersfull, haha. The amateur matches were held at Sepakat, an uneven football field that was full of potholes. From time to time, you'd see players disappear while running as they tripped and fell down. I was watching from the courtside when Mul AW scored the one and only goal that made us the champion of the league!

That low resolution picture from 21 years ago. Muliady The was the second from the right, next to the girl. 

The opportunity to watch a professional soccer game came 10 years later in 2008, when Singapore played against Brazil. This is one the matches that you'd know how it'd end. The part we didn't know is how bad it was going to end for Singapore and we were there to witness it, haha. It turned out to be 3-0. Not bad, actually. One of the goals was contributed by Ronaldinho. It was so phenomenal as he didn't even kick the ball to score. He moved past few players and the goalkeeper, then literally dribbled the ball right into the goal!

Fast forward to 2019, 21 years after my classmates posed as pseudo-Juventus, there was a news that the real deal was coming to Singapore. This was a group that meant something to us back in the days, so I asked around to see if anybody was keen to watch. Muliady The, one of Lickersfull members, said yes and I immediately booked the tickets. So there we were, few months later, at the National Stadium.

Bumped into my colleague, Ariff.
(Photo owned by Ariff)

The atmosphere was brilliant! It was the main reason why I loved to be in the crowd and watched it live. You could feel the excitement. It was electrifying! At the same time, the thought of other friends watching the same game from TV while the two of us were there was somewhat strange, haha. Thanks to WhatsApp chat group, we could talk about it even though we were far away from each other. 

And what a good game it was. To be frank, since I don't really follow soccer and both teams had players with jersey number seven, I actually couldn't tell which one was Juventus, haha. It took me a while to figure out that Tottenham was wearing dark blue. I was surprised by how good they were and it was only fitting that they scored the first goal. The second half was when it got really exciting. Juventus struck back and scored two goals. Tottenham made it even afterwards. Up to minute 90, it was a tie. Then Harry Kane took a shot from the middle of the field during injury time. Not only it was spectacular, it was also a game changer. I came to watch simply because of Juventus and I left the stadium with a newfound respect for Tottenham...

Muliady, looking happy before the game started. 


Olahraga, Juventus Dan Tottenham

Jika anda sudah cukup lama mengikuti Roadblog101, mungkin pernah terpikirkan oleh anda kenapa saya tidak pernah berbicara tentang olahraga. Ini tidak lantas berarti saya tidak menyukai olahraga. Saya akui bahwa saya bukanlah orang yang berbakat dalam aktivitas ini, tapi dulu saya senang bermain voli di sekolah. Kalau saya lihat kembali, apa yang terjadi saat itu adalah penerapan dari teori Darwin tentang seleksi alami: teman-teman hanya akan memanggil saya kalau mereka kekurangan pemain. Ini dikarenakan oleh ketidakbecusan saya dalam bermain, haha. Saya bahkan sering kali gagal dalam servis sehingga membuat mereka tegang pada saat penentuan, jadi teman-teman sebenarnya lebih senang kalau saya berada di luar lapangan dan membantu mereka menghitung hasil pertandingan yang sedang berlangsung.

Walau partisipasi saya dalam bidang olahraga boleh dikatakan minimum atau hampir tidak ada, saya tidak keberatan untuk menyaksikan pertandingan dari waktu ke waktu. Saya selalu mengikut pertarungan Mike Tyson, jauh sebelum dia mulai menggigit telinga. Saya juga mengikuti tenis ketika Steffi Graf mendominasi permainan cabang olahraga ini. Saya juga ingat masa-masa tidak terlupakan ketika Chicago Bulls melawan Utah Jazz di tahun 1998. Dan Piala Dunia sudah mulai saya tonton sejak tahun 1994, saat Romário and Bebeto merajai lapangan rumput, namun sepertinya saya berkenalan dengan sepak bola sejak van Basten dan Gullit menjadi idola di akhir tahun 80an.

Kebetulan saya juga mendapat kesempatan untuk menyaksikan pertandingan langsung dari sejak kecil. Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Pontianak pernah menjadi tuan rumah Indonesia Open di tahun 1989. Saat saya menyaksikan para pemain seperti Huang Hua dan Xiong Guobao berlaga di lapangan bulutangkis. Sebelum itu, delegasi dari Cina ini sempat dijamu di restoran Hotel Kartika. Seingat saya, pemain legendaris Yang Yang juga hadir.

Bersama Cicilia (tengah) dan Ardian (paling kanan) serta dua teman sekampus. Ardian cemberut, mungkin karena kalah bertanding, haha. 

Di tahun terakhir masa SMU, para murid menggelar liga pelajar. Teman-teman sekelas saya mengenakan kostum Juventus dan tim mereka bernama Lickersfull, haha. Pertandingan amatir ini diadakan di Sepakat, sebuah lapangan bola yang bergelombang dan banyak lubangnya. Dari waktu ke waktu, pemain yang sedang berlari bisa tiba-tiba lenyap dari pandangan karena jatuh tersungkur. Saya menonton dari samping lapangan ketika Mul AW mencetak satu-satunya gol di babak final dan mengantarkan kelas kita menjadi juara liga.

Peluang untuk menonton pemain bola profesional muncul 10 tahun kemudian. Singapura bertanding melawan Brazil di tahun 2008. Ini adalah pertandingan yang kira-kira sudah terbayang hasilnya. Yang ingin saya saksikan adalah seberapa parah hasilnya bagi Singapura dan saya ingin berada di sana untuk menyaksikannya secara langsung. Singapura dicukur 3-0 oleh Brazil. Tidak terlalu buruk sebenarnya. Yang mengesankan adalah gol yang dicetak oleh Ronaldinho. Dia melewati banyak pemain dan mengecoh kiper, lalu menggiring bolanya ke gawang! Memang dashyat!

Di tahun 2019, 21 tahun setelah teman-teman sekelas saya berpose sebagai tim Juventus gadungan, beredar berita bahwa tim tersebut akan datang ke Singapura. Ini adalah tim besar yang menjadi inspirasi kita pada masa remaja, jadi saya pun bertanya kepada teman-teman, apa ada yang berminat untuk menonton. Muliady The, mantan anggota Lickersfull, menyambut tawaran ini dengan antusias, jadi saya langsung membeli tiket sebelum kehabisan. Beberapa bulan kemudian, kita pun berada di National Stadium dan hadir sebagai penonton.

Tiket pertandingan. 

Suasananya sungguh luar biasa dan mengingatkan saya kembali, kenapa saya suka berada di tengah keramaian untuk menyaksikan pertandingan secara langsung. Anda bisa merasakan energi dan semangat yang meluap dari penonton. Begitu gegap gempita! Pada saat bersamaan, sempat terpikir oleh saya bahwa teman-teman juga menonton pertandingan yang sama dari layar TV. Berkat WhatsApp, kita pun bisa berdiskusi sepanjang pertandingan. 

Dan Juventus vs. Tottenham adalah sebuah pertandingan yang layak untuk disaksikan. Secara jujur saya akui bahwa saya tidak selalu mengikuti perkembangan sepakbola dan karena dua tim ini memiliki pemain bernomor punggung tujuh, awalnya saya tidak tahu yang mana sebenarnya Juventus, haha. Setelah beberapa saat kemudian, baru saya sadari bahwa pemain Tottenham mengenakan kaos biru tua. Saya jadi terpukau oleh penampilan timnya yang prima. Tidak mengherankan kalau mereka bisa mencetak gol pertama. Namun Juventus mulai memberikan perlawanan di babak kedua dan mengoyak kandang lawan dengan dua gol dalam kurun waktu kurang dari lima menit. Tottenham lantas membalas dan menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Sampai menit ke-90, permainan tetap berimbang. Sesuatu yang gemilang akhirnya terjadi pada saat waktu tambahan di penghujung babak kedua. Harry Kane menembak dari tengah lapangan dan masuk! Golnya bukan saja spektakuler, tapi juga memenangkan timnya. Saya datang untuk menyaksikan Juventus dan saya pulang dengan kekaguman terhadap Tottenham...

Muliady menantikan pertandingan dimulai. 

No comments:

Post a Comment