Total Pageviews

Translate

Friday, March 13, 2020

The Holy Land

When I interviewed Eday and wrote about his journey to the Middle East and Africa, I felt like there was something missing. I mean, he travelled to Jordan and Egypt, yet he never entered Israel. If you looked at the map, Israel is located between the two countries. This is why I immediately contacted Cicilia when I heard about her recent trip to Israel. It was like finding the missing jigsaw puzzle!

Cicilia's journey began with her auntie asking if she would like to go to the Holy Land with her. This auntie of hers had been there before and was now longing to return. That sounded promising! Cicilia knew nothing about Israel and she didn't do any research about the destination either. She simply had faith. And US dollars. And credit cards.

The trip costed her IDR 33,000K, inclusive of return tickets, travel insurance, hotels, meals, tour guide and land transport. It started with a flight from Jakarta to Abu Dhabi and the flight duration was 8.5 hours. After the transit, Cicilia took a 3.5-hour flight to Amman. From the capital city of Jordan, she continued the journey by coach, passing by Mount Nebo. 

The Sea of Galilee. 

That's when the Holy Land tour began. For those of you who didn't know, Mount Nebo was the last stop for Moses. Around 3,426 years ago, he climbed the mountain to have one good look at the promised land of Canaan and he died afterwards. Back to present day, Cicilia crossed the Sheikh Hussein Bridge (also known as Jordan River Crossing) and when the night came, she eventually arrived in Tiberias, the city on the west side of the Sea of Galilee.

It was also in this city that Cicilia first experienced a kosher meal. The word kosher can be roughly translated as halal according to Jewish dietary law. No outside food is allowed. Cicilia noticed that whenever cheese was served, there wasn't any meat and vice versa. The menu was enjoyable and she liked the kosher meals, alright, but being an Indonesian who loves the burning sensation of chilli, how she wished the food there was spicy!

Mount Hermon.

The next morning, the coach brought her to Mount Hermon that is situated nearby Lebanon and Syria. I asked her about the internet connection and it turned out that even the coach provided Wi-Fi, too. Yes, the connection was spotty, but it was better than nothing. According to Cicilia, throughout her trip, the internet was quite accessible.

And Mount Hermon was snowy! There was this initial anxiety when she saw soldiers with weapons guarding the area, but the fun of playing snow soon took over! Coming a tropical country, seeing snow for the first time was surely an entirely new experience!

The view on Mount Hermon. 

From Mount Hermon, Cicilia returned to the Sea of Galilee for lunch. The main course? Of course it had to be St. Peter's fish! Simon Peter of the 12 Apostles was originally a fisherman. The fish he caught turned out to be somewhat similar with gurame fish in Indonesia. 

The next stop was Mount Tabor, a 35-minute car ride from Tiberias. This is where the transfiguration of Jesus took place. By the way, if you ever thought that the phrase transfiguration of Jesus sounded complicated, that's because it was. You can check the internet for more details, but it's basically about Jesus meeting Moses and Elijah, the two prophets that came long before Jesus was born, so they were like in the spirit form when they appeared on the mountain.

Visiting Caesarea.

After that, Cicilia went back to the Sea of Galilee to join the the Catholic Mass on a boat. The next day, she visited towns, cities and even the Dead Sea. Most of them, such as Capernaum, Jericho, Jerusalem, Cana or Nazareth, are related to Jesus. Others like Haifa and Caesarea aren't that biblical. 

Bethlehem was specifically mentioned by her. The place where Jesus was born is actually located in Palestine, not in Israel. It was also where the pilgrimage began. What she saw brought her back to the time when Jesus walked the earth. When I asked her about Cavalry, the crucifixion site, she said the atmosphere was so overwhelming there that she suddenly broke down and cried.

In front of the Wailing Wall.

Since the tour she had was pretty much based on places Jesus had been to, I asked from a different angle, i.e. how's the country in general? Cicilia told me that it was alright. Admittedly, it is an arid place and must be dusty during summer, so best visited during winter. The cold weather would definitely help, especially when there are a lot of things to be done outdoor and one will explore the alleyway on foot. 

Cicilia also couldn't help noticing the Orthodox Jews that looked strikingly different than others. They always wore black and, thanks to the beard, the men looked like Dumbledore from Harry Potter. And of course, as the country used to be part of the Roman Empire, one could still see its influence from old buildings. Oh, then there were olive trees everywhere, too!

Mount Sinai.

By the way, the tour didn't end in Israel. Cicilia left the country and crossed to Taba in Egypt. From there, she headed to the southern tip of the Sinai Peninsula, passing by the Red Sea as she made her way to Sharm El Sheikh. It was during the stay there that she climbed Mount Sinai. For your information, this is where Moses received the Ten Commandments. Cicilia also said that climbing up to the summit was not for the unfit, so beware! You'd been warned!

The last city she visited was Cairo. Pyramid was the main attraction, but she also visited the Cave Church and boarded on a cruise ship for Nile River sightseeing. From Cairo, she flew to Abu Dhabi for a short period of transit and eventually headed back to Jakarta. 

Verdict? Highly recommended, even for the non-Christian!

In Cairo.



Tanah Suci

Ketika saya mewawancarai Eday dan menulis tentang liburannya ke Timur Tengah dan Afrika, saya merasa seperti ada yang hilang. Perjalanannya terasa tidak lengkap karena dia pergi ke Yordania dan Mesir, namun dia tidak pernah memasuki Israel. Jika anda lihat di peta, Israel terletak di tengah dua negara ini. Inilah alasan kenapa saya langsung menghubungi Cicilia saat saya mendengar bahwa dia baru kembali dari Israel. Rasanya seperti menemukan kepingan jigsaw yang hilang! 

Petualangan Cicilia bermula dari ajakan tantenya untuk berziarah ke Tanah Suci orang Katolik. Tante ini sudah pernah ke Israel dan ingin kembali lagi ke sana. Kesannya menarik juga. Cicilia tidak tahu-menahu tentang kondisi di Israel dan juga tidak mencari tahu. Apa yang ia perlukan hanya iman. Dan dolar Amerika. Dan kartu kredit.

Waktu transit di Abu Dhabi. 

Biaya perjalanan seharga 33 juta rupiah, sudah termasuk tiket, asuransi perjalanan, hotel, makan, pemandu dan transportasi di sana. Penerbangan dimulai dari Jakarta ke Abu Dhabi dan berdurasi 8,5 jam. Setelah transit, Cicilia terbang lagi selama 3,5 jam ke Amman. Dari ibukota Yordania ini, perjalanan dilanjutkan dengan bis yang melewati Gunung Nebo. 

Dan tur Tanah Suci pun dimulai! Bagi anda yang tidak tahu, Gunung Nebo adalah pemberhentian terakhir bagi Musa. Sekitar 3.426 tahun yang lalu, Musa mendaki Gunung Nebo untuk melihat Tanah Perjanjian Kanaan, lalu dia pun meninggal setelah itu. Kembali ke Cicilia, dia lantas menyeberang masuk ke Israel lewat Jembatan Sheikh Hussein yang juga dikenal dengan sebutan Jordan River Crossing. Ketika malam tiba, Cicilia pun sampai di Tiberias yang berada di sebelah barat Danau Galilea.

Di Gunung Nebo.

Di kota ini Cicilia mencoba apa yang namanya makanan kosher. Secara harafiah, kosher bisa diartikan sebagai halal menurut aturan Yahudi. Di tempat ini, makanan dari luar tidak diperbolehkan. Cicilia mengamati bahwa bilamana ada makanan berbasis keju, maka lauk dari daging tidak akan disajikan dan begitu juga sebaliknya. Menunya ternyata enak, namun tidak pedas rasanya. 

Keesokan paginya, bis membawa rombongan turis ke Gunung Hermon yang berada di dekat Libanon dan Suriah. Saya bertanya tentang koneksi internet selama di sana dan di luar dugaan, ternyata jaringannya sudah cukup memadai. Bahkan di bis pun ada Wi-Fi. Ya, memang kadang jelek koneksinya, tapi lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Di Gunung Hermon.

Dan Gunung Hermon sedang bersalju! Pada mulanya ada rasa risau saat melihat para tentara yang berjaga di sekitar sambil membawa senjata, namun serunya bermain salju pun membuat Cicilia lupa dengan keberadaan mereka. Bagi yang datang dari negara tropis, melihat salju untuk pertama kalinya tentu merupakan pengalaman tersendiri!  

Dari Gunung Hermon, Cicilia kembali ke Danau Galilea untuk makan siang. Menu utamanya tentu saja ikan Petrus. Ya, Simon Petrus dari 12 Rasul dulunya adalah seorang nelayan yang menjala ikan di danau tersebut. Ikan yang ia tangkap itu mirip ikan gurami yang ada di Indonesia.

Ikan Petrus. 

Tujuan berikutnya adalah Gunung Tabor yang berdurasi 35 menit dari Tiberias. Gunung ini adalah tempat terjadinya transfigurasi Yesus. Jika anda merasa bingung dengan makna frase transfigurasi Yesus, ini wajar karena memang rumit peristiwanya. Anda bisa cek di internet untuk keterangan lebih lanjut, namun secara singkat bisa dijelaskan bahwa transfigurasi ini adalah mukjizat yang terjadi pada Yesus sendiri dan dia berbincang-bincang dengan Musa dan Elia, dua nabi yang diutus jauh sebelum Yesus lahir. 

Setelah itu, Cicilia kembali lagi ke Danau Galilea untuk mengikuti misa Katolik di atas kapal. Di hari berikutnya, dia mengunjungi berbagai kota dan juga ke Laut Mati. Beberapa kota seperti Kapernaum, Jericho, Yerusalem, Kana atau Nazaret memiliki kaitan erat dengan perjalanan hidup Yesus, namun kota lainnya seperti Haifa dan Caesarea boleh dikatakan kurang dikenal dalam kitab suci.

Di Kapernaum. 

Bethlehem memiliki kesan tersendiri bagi Cicilia. Kota kelahiran Yesus ini bukan termasuk wilayah Israel, melainkan berada di Palestina. Ziarah semakin terasa intensif sejak ia menginjakkan kaki di Bethlehem. Apa yang ia lihat membawanya kembali ke masa-masa Yesus. Ketika saya bertanya apa yang ia rasakan saat melihat Golgota, tempat Yesus disalibkan, dia bercerita bahwa suasana di sana tiba-tiba membuatnya menangis tersedu-sedu. 

Karena tur ini dirancang khusus untuk ziarah, saya kemudian bertanya, seperti apa negara Israel ini bila dilihat dari sudut pandang orang non-Kristen. Cicilia merasa negara ini tetap layak dikunjungi. Ya, memang tempatnya gersang dan pasti berdebu di musim panas, jadi lebih nyaman jika kita ke sana di saat musim dingin. Cuaca dingin terasa mendukung aktivitas dan eksplorasi di tempat terbuka.

Berpose di depan Yahudi Ortodoks. 

Cicilia juga memiliki kesan tersendiri dengan orang-orang Yahudi Ortodoks yang sering dijumpainya. Mereka terlihat berbeda, senantiasa berpakaian hitam dan berjanggut sehingga terlihat mirip Dumbledore di kisah Harry Potter. Dan tentu saja sebagai bekas jajahan bangsa Romawi, budaya dan pengaruhnya masih terlihat di setiap sudut kota. Satu hal lagi yang unik adalah pohon zaitun yang ada di mana-mana. 

Oh ya, perjalanan Cicilia tidak berakhir di Israel. Dia masih lanjut ke Mesir dan masuk lewat kota Taba. Dari sini, bis melewati pesisir Laut Merah, membawanya ke Sharm El Sheikh yang berada di selatan Peninsula Sinai. Selama berada di sini, Cicilia pun mengunjungi Gunung Sinai. Sebagai informasi, di gunung inilah Musa menerima Sepuluh Perintah Allah. Bagi yang berminat ke sana, Cicilia berbagi cerita bahwa perjalanan ke puncak sangat menguras stamina. Yang tidak sehat dianjurkan untuk tidak mendaki! Bagusnya naik unta, hehe.

Taman Timna di Israel, tak jauh dari kota Taba di Mesir.

Kota terakhir yang dikunjunginya adalah Kairo. Piramida menjadi atraksi utama di sini, namun dia juga mengunjungi Gereja Sampah dan menaiki kapal untuk menyusuri Sungai Nil. Dari Kairo, dia terbang ke Abu Dhabi dan akhirnya kembali ke Jakarta. 

Kesimpulannya? Sangat direkomendasikan untuk mengunjungi Israel, bahkan bagi non-Kristen sekalipun! 

No comments:

Post a Comment