Total Pageviews

Translate

Sunday, April 4, 2021

The Motivation

Our high school chat group, founded in 2015, had been around for quite some time. Over the years, I developed a lot of nonsensical catchphrases. One that appeared quite often recently was, "if you are 40 and you still haven't been to Singapore, something must have gone wrong along the way."

While this might sound incredibly annoying to the uninitiated, my friends simply dismissed this as another bombastic remark from the official gas stove of the group. They didn't take it seriously, which was the beauty of knowing each other for so long, but at the same time, they probably had missed the point. 

To be frank, I didn't just say it to irritate them. I actually tried to motivate them in a very subtle way. Throughout my three years of working in Jakarta in my early 20s, I learnt that holiday was the furthest thing I had in mind. I was happy with the way I lived my laid-back life, so ignorant that I didn't know what I had missed. 

It was an honest mistake that might happen we were young and single. Now that we were in our 40s, if we had gone through so much hardship but yet it didn't bring us any further from where we started, then there was a danger that we started taking it as a norm. We might be subconsciously believing that, "well, this is my life. I just have to accept it."

Surianto taking pictures of the kids at the zoo.

While acceptance was good, perhaps a little motivation wouldn't hurt as well. I believed that, as a husband and especially as a father, we owed it to our family to show them the world and expand their horizons. One might argue that seeing the world via the internet was fine, but if that was true, then why would people still travel? The hard truth was, nothing beat the real-life experience. The kids deserved that and it was our responsibility to give them the chance. 

But why Singapore? Because it's the only first world country close enough to Indonesia, so different from what many of us had seen on daily basis. Singapore is a good exposure for the kids to know. Life here isn't perfect, but it is definitely a good option. What they saw couldn't be unseen. It'd be etched forever in their minds. An inspiration. If this was the one thing you could do to change their lives forever, you surely didn't want to miss that. 

This is why I often encouraged friends to come and take a look. With so many budget airlines and a friend who was willing to let you stay few nights for free, Singapore wasn't that expensive. The question was whether you were willing to take the first step by applying for passport. My advice? Come here alone and see what first the world has to offer, then bring the experience back as a motivation that you'df work hard to bring your family to come here one day so they could see Singapore themselves.

If you ever wonder what's in it for me, the answer is nothing. I simply enjoy bringing people to see the city. Back in the days, friends like Jimmy and Endrico brought me around to see Kuching and Singapore. Let's just say because they gave me chance, they inspired me to extend the same chance to other friends, too...

With Jimmy as well as Gunawan and wife.



Motivasi

Grup SMA di WhatsApp yang pertama kali dibentuk di tahun 2015 kini sudah berjalan beberapa waktu lamanya. Dalam beberapa tahun ini, saya juga menciptakan berbagai celetukan yang secara selintas terdengar semena-mena. Satu yang sering muncul belakangan ini adalah, "sudah umur 40 tapi belum pernah ke Singapura, pasti ada yang salah." 

Bagi yang tidak paham dinamika grup, komentar ini pasti terdengar menyebalkan. Sejauh ini teman-teman tidak terlalu ambil pusing, mungkin karena komentar ini datang dari seseorang yang mereka sebut sebagai kompor gas. Tak ada menanggapi secara serius (dan inilah indahnya persahabatan yang sudah berjalan sekian lama), tapi di satu sisi, mereka juga tidak menangkap maksud yang tersirat dalam kalimat ini. 

Saya tidak mengucapkan hal ini untuk membuat mereka jengkel. Sesungguhnya saya justru menyentil mereka dengan halus. Di awal usia 20an, saya bekerja selama tiga tahun di Jakarta. Di kala saya melihat kembali, saya menyadari bahwa liburan nyaris tidak terpikirkan pada saat itu. Saya puas dengan pola hidup yang santai dan tidak pernah tahu bahwa saya melewatkan begitu banyak hal.

Kesalahan ini bisa dimaklumi dan tidak fatal ketika kita masih muda dan hidup sendiri. Sekarang, di usia 40an, jika kita telah melalui begitu banyak kesulitan hidup dan perjuangan kita tidak membuat banyak perbedaan, kita mungkin jadi merasa bahwa beginilah yang namanya hidup. Kita mungkin lambat-laun percaya, seperti inilah hidup kita dan kita harus menerimanya. 

Surianto dan anak-anak. 

Berserah diri itu bagus, tapi sedikit motivasi juga baik adanya. Saya percaya bahwa sebagai suami, terlebih lagi sebagai seorang ayah, membawa anak melihat dunia dan membuka wawasan mereka adalah tanggung jawab kita. Anda mungkin merasa bahwa lewat internet saja sudah cukup, tapi kalau sungguh itu benar, kenapa masih banyak orang yang pergi berlibur? Kenyataannya adalah, melihat dan mengalami secara langsung jelas berbeda rasanya. Anak-anak kita hendaknya memperoleh kesempatan ini dan adalah tanggung jawab kita untuk memberikan kesempatan tersebut pada mereka.

Tapi kenapa Singapura? Karena ini adalah negara dunia pertama yang dekat dengan Indonesia dan begitu berbeda dengan apa yang kita lihat sehari-hari di tempat kita berasal. Singapura adalah sebuah pengalaman yang luar biasa untuk dijajaki oleh anak-anak. Kehidupan di sini tidaklah sempurna, tapi jelas merupakan sebuah pilihan yang bagus. Apa yang mereka lihat dan alami takkan terlupakan. Siapa tahu akan menjadi sebuah inspirasi bagi mereka kelak. Nah, jika ini adalah satu hal yang bisa anda lakukan untuk mengubah hidup mereka, tentu anda tidak ingin melewatkannya. 

Karena inilah saya sering mendorong teman-teman untuk datang, melihat dan mengalami sendiri, apa yang namanya Singapura ini. Dengan adanya penerbangan murah dan juga teman yang berkenan menyediakan tempat tinggal selama beberapa malam, Singapura pun tidak akan terlalu mahal di ongkos. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah anda mau mengambil langkah pertama dan membuat paspor dulu? Menurut saya, datanglah dulu ke sini seorang diri dan lihat sendiri apa yang ditawarkan Singapura. Setelah itu bawa pulang pengalaman anda dan jadikan motivasi bahwa anda akan bekerja keras dan membawa keluarga anda berlibur ke Singapura suatu hari nanti. 

Jika anda membayangkan apa untungnya semua ini buat saya, jawabannya adalah tidak ada. Saya cuma senang bertemu dan membawa teman jalan-jalan. Bertahun-tahun silam, Jimmy dan Endrico juga membawa saya melihat-lihat kota Kuching dan Singapura. Apa yang mereka perbuat lantas menjadi inspirasi bagi saya untuk melakukan hal yang sama. Sesederhana itu...

Bersama Jimmy dan juga Gunawan dan istri.


No comments:

Post a Comment