Total Pageviews


Sunday, October 30, 2022

The Islands

Earlier this month, few weeks before the trip to Karimunjawa took place, a friend in our group chat commented about the danger of going to an island in October. She said stuff about bad weather and the sea could be unpredictable. The remark annoyed the head honcho of the trip and he immediately ranted on about how often the person who made the comment actually visited any islands for the past 42 years of her life. Was she actually so experienced or qualified about the topic she was talking about?

As the gas stove in the group, it was fun to take part in this heated conversation. But I was also intrigued to count how many times I had visited the islands. You see, I always preferred to visit cities, but it turned out that I also visited quite a number of islands, too. From 1998, I had gone to many islands, from Temajoh, Bali, Batam, Sentosa, Boracay, Penang, Bidadari, Phuket, Ko Phi Phi, Samosir, Bohol, Pulau Ubin, Miyajima, Bintan to Madura. That, I would say, was quite a lot for someone who wasn't exactly a fan.

Memorable for all the wrong reasons was, of course, Temajoh. It wasn't a blessed trip to begin with and that's probably why it was the only trip where, whether you believe it or not, I had my first and only encounter so far with the other realm. 24 years later, we still talked about it from time to time, but I'd never set foot there again for the rest of my life.

In Bali with my uncles and my auntie.

Bali is the complete package: the food, the nature and the culture. So different than other places in Indonesia that I had been to. It might not be the most modern island I ever visited (that title would go to Sentosa), but it didn't have to be, for it was very charming. My first three trips happened in 2004-2005 and the fourth one happened in April this year, about 17 years since I last went there. Nice place to be for a short break.

Batam is like the default place to go for a short getaway. It is so close to Singapore that every time I feel like having Indonesian cuisines, I can just go there. It is also a transit gateway for me to go back to my hometown. When you are an Indonesian or an ex-Indonesian living in Singapore, you are likely to visit this island from time to time.

In Boracay.

Boracay was famous 14 years ago, though to be frank it offered pretty similar attractions like any other islands such as water sports, the crystal clear sea water, etc. But it came with some Pinoy flavours like sisig and San Miguel. I think the only reason I went there was so that I could be with Yani, haha. In normal circumstances, no way I'd go to such places. 

Penang, the part where Georgetown was located, was also an island. It was quite lively, brimming with Chinese influence, I'd say. The most memorable place was a temple called Kek Lok Si. I think that was the first time I ever used the word serene to describe how I felt, especially when I was nearby the big Buddha statues. So tranquil.

With Yani in Pulau Bidadari.

Pulau Bidadari was another island that I went solely because of Yani. We didn't see much of the island because... we went there for pre-wedding pictures, haha. It was the same with Phuket. It was also with Yani during our honeymoon. By the way, remember when I mentioned about Bali offering the complete package? It was in Phuket that I got this idea. Both were quite similar that I couldn't help comparing, I concluded that one would have so much more in Bali, except Simon Cabaret. Probably.

My idea of honeymoon was to relax, but I guess Yani was more adventurous. That's how we ended up visiting Ko Phi Phi. It wasn't exactly near. About two hours ride when taking the larger ferry as Ko Phi Phi is between Phuket and Krabi. Apart from the tsunami signs on the roadside, I barely recall how the island looked like back in 2011.

In Ko Phi Phi.

Samosir is an island in the center of Lake Toba. I went to the lake twice, first time was in 2005. The second visit happened seven years later and it was during this time that we went to see Samosir. Quite interesting as there was a museum and some historical sites of Batak people here, but I reckon it was only worth visiting once. I mean, if you had gone a long way from Medan to Lake Toba (about four hours), you might as well go there. 

Bohol was again the brainchild of Yani, just like how we visited Ko Phi Phi. I was comfortable doing nothing in Cebu, but Yani felt that we could spend the extra day in Bohol, the neighbouring island, so off we went. And she was right. Bohol was worth the effort. I personally enjoyed checking out the tarsiers. Never saw this primate before. It was also in Bohol that I came to realize wherever we went in Southeast Asia, the flora actually looked pretty much the same.

Chocolate Hills, Bohol.

Pulau Ubin was another reminder of how Singapore was part of the archipelago that formed Indonesia and Malaysia. The wooden boat we took, the old houses that sold coconuts, they were quite similar with what I saw back in West Borneo. Went there once with my parents and never returned to the island since then.

If there was an island felt so different that those I had visited before, it had to be Miyajima. It was not very far from Hiroshima and you'd be greeted the tame deer the moment you arrived. There was this torii gate that was supposed to be flooded during the high tide. The island also had a lot of spatulas, from tiny ones to the world's biggest spatula. 

With Yani in Bintan.

Bintan was very much another option for those who stay in Singapore (or less preferred option for me). It was known for two things: Bintan resorts and the capital city of Kepulauan Riau province: Tanjungpinang. None was as charming as Batam. Bintan resorts were pricey and overrated whereas Tanjungpinang looked rundown.

The last island I went so far was Madura. It was a planned visit, one of a few islands I actually wanted to go. The Madura people had a long, illustrious history in Pontianak, therefore I'd like to see the island that shaped the character of its people. A tough place indeed.

Now, back to the trip to Karimunjaya. Did the weather go wild for those who went there? No, it was fine and the boys had some fun there, though it was kind of surprising to see the head honcho bringing the whole family. Not only it was unannounced, but it was also unexpected. But perhaps it got to do with the upcoming trip in 2023. Until then, stay tuned!

The boys in Karimunjawa.

Berkelana Ke Pulau

Awal bulan ini, beberapa minggu sebelum liburan ke Karimunjawa tiba, seorang teman di grup WhatsApp berkomentar tentang bahaya ke pulau di bulan Oktober. Dia berceloteh tentang cuaca buruk yang mungkin terjadi. Pendapat ini ternyata membuat ketua panitia menjadi jengkel dan dia pun mengomel panjang-lebar tentang seberapa sering sebenarnya orang yang berkomentar ini ke pulau selama 42 tahun terakhir. Memangnya punya cukup pengalaman sampai bisa berujar tentang cuaca? 

Sebagai kompor gas di grup, saya senang terlibat dalam topik yang mulai memanas seperti ini. Namun saya juga tergelitik untuk menghitung, seberapa sering saya sudah ke pulau sampai sejauh ini? Saya pribadi lebih menyukai perkotaan, tapi ternyata saya pun juga sudah mengunjungi beberapa pulau. Dari tahun 1998, saya sudah ke Temajoh, Bali, Batam, Sentosa, Boracay, Penang, Bidadari, Phuket, Ko Phi Phi, Samosir, Bohol, Pulau Ubin, Miyajima, Bintan dan Madura. Cukup banyak juga untuk orang yang tidak menggemari liburan ke pulau. 

Yang berkesan karena alasan-alasan tidak benar adalah Temajoh. Ini bukanlah liburan yang mendapat restu orang tua dan mungkin karena inilah, percaya atau tidak, sekali-kalinya saya berinteraksi dengan dunia lain. 24 tahun kemudian, kita masih mengenang kembali liburan ini, tapi saya tidak akan kembali lagi ke sana sampai akhir hayat saya. 

Bersama paman dan tante saya di Bali.

Kalau Bali, yang terasa adalah satu paket lengkap yang mencakup makanan, alam dan budaya. Pokoknya berbeda dengan wilayah lain di nusantara. Bali bukanlah pulau paling modern yang pernah saya kunjungi (gelar ini lebih cocok disandang oleh Pulau Sentosa), tapi Bali tidak perlu menjadi yang paling modern karena pesonanya yang sangat memikat. Tiga liburan pertama saya terjadi di tahun 2004-2005 dan yang ke-empat terjadi di bulan April tahun ini, sekitar 17 tahun setelah saya terakhir ke sana. Bali cocok untuk liburan sejenak. 

Akan halnya Batam, ini adalah tempat kunjungan akhir pekan. Begitu dekat dengan Singapura sehingga bila saya ingin mencicipi makanan Indonesia, saya tinggal menyeberang ke Batam. Pulau ini juga menjadi tempat transit jika saya ingin kembali ke Pontianak. Orang Indonesia atau mantan warga Indonesia yang tinggal di Singapura pasti akan pergi ke Batam dari waktu ke waktu. 

Di Boracay.

Boracay boleh dikatakan cukup terkenal 14 tahun silam, walaupun jujur saya katakan bahwa suasananya mirip dengan pulau-pulau lain yang menawarkan hal serupa, misalnya aneka olahraga air, laut yang jernih dan sebagainya. Yang berbeda di sini adalah nuansa Pinoy, misalnya sisig dan bir San Miguel. Saya rasa satu-satunya alasan saya ke sana adalah agar bisa bertemu dengan Yani, haha. Kalau bukan karena itu, tidak mungkin rasanya saya main ke sana. 

Penang, tepatnya lokasi kota Georgetown, juga merupakan sebuah pulau. Cukup semarak dan kental pula dengan budaya Cina. Yang paling saya ingat dari kunjungan saya ini adalah kuil bernama Kek Lok Si. Setelah kunjungan inilah saya pertama kalinya menggunakan kata serene yang berarti tenteram untuk menjabarkan apa yang saya rasakan, terutama saat berada di dekat patung Buddha. Begitu damai rasanya.

Bersama Yani di Pulau Bidadari.

Pulau Bidadari juga merupakan tempat yang saya kunjungi semata-mata karena Yani. Kita tidak berjalan-jalan pulau ini karena kita ke sana dalam rangka pemotretan foto pranikah, haha. Demikian halnya juga dengan Phuket. Saya ke sana bersama Yani untuk berbulan madu. Oh ya, sempat saya katakan di atas bahwa Bali merupakan satu paket lengkap. Sewaktu di Phuket inilah saya merumuskan pendapat ini. Karena mirip, saya lantas bandingkan. Anda akan jumpai lebih banyak yang menarik di Bali, kecuali Simon Cabaret. 

Apa yang saya inginkan dari bulan madu hanyalah bersantai-ria, namun Yani mungkin lebih bersemangat menjelajah ke sekitar. Oleh sebab inilah kita ke Ko Phi Phi. Jaraknya tidak terlalu dekat juga, sekitar dua jam kalo naik feri berukuran besar karena Ko Phi Phi terletak di antara Phuket dan Krabi. Selain rambu tsunami di tepi jalan, saya tidak ingat lagi seperti apa pulau ini di tahun 2011.

Di Ko Phi Phi.

Samosir terletak di tengah Danau Toba. Saya dua kali ke Danau Toba dan pertama kali ke sana di tahun 2005. Kali kedua terjadi tujuh tahun kemudian dan di kali ini saya ke Samosir. Cukup menarik juga bila anda menikmati museum dan tempat bersejarah, tapi rasanya cukup sekali ke sini. Jika anda sudah menempuh empat jam dari Medan ke Danau Toba, anda bisa sekalian ke sini. 

Bohol lagi-lagi merupakan ide Yani. Saya sudah cukup puas dengan kunjungan ke Cebu, tapi Yani merasa bahwa satu hari ekstra ini bisa dimanfaatkan ke Bohol dan dia sungguh benar. Saya menikmati kunjungan ke penangkaran tersier, sejenis monyet kecil yang hidup di pulau ini. Dan juga di Bohol inilah saya menyadari bahwa selama kita berkeliling Asia Tenggara, pemandangan dan tumbuhannya kurang lebih sama. 

Bukit Coklat, Bohol.

Pulau Ubin mengingatkan saya kembali bahwa Singapura adalah bagian dari kepulauan yang membentuk Indonesia dan Malaysia. Perahu kayu yang membawa kita ke sana, rumah-rumah tua yang menjual kelapa muda, semua ini serupa dengan apa yang saya lihat di Kalimantan Barat. Saya hanya pernah ke sana satu kali bersama orang tua saya dan tidak pernah kembali lagi semenjak itu. 

Jika ada pulau yang terasa sungguh berbeda, maka pulau itu adalah Miyajima. Letaknya tidak jauh dari Hiroshima dan anda akan disambut oleh rusa-rusa jinak begitu anda mendarat. Tak jauh dari dermaga, ada gerbang torii yang terendam laut di saat air pasang. Selain itu, yang unik adalah berbagai ukuran sendok nasi dari bahan kayu yang bisa ditemukan di sana, mulai dari yang mungil sampai sendok nasi terbesar di dunia. 

Bersama Yani di Bintan.

Selain Batam, Bintan juga sering menjadi alternatif bagi yang tinggal di Singapura. Saya sendiri tidak begitu suka ke sana. Pulau ini dikenal karena dua hal: kawasan hotel dan ibukota provinsi Kepulauan Riau: Tanjungpinang. Dua-duanya tidak terlalu menarik. Kawasan perhotelan Bintan tergolong mahal dan Tanjungpinang masih sangat terbelakang. 

Pulau terakhir yang saya kunjungi sampai sejauh ini adalah Madura. Kunjungan ke sana memang direncanakan karena saya ingin lihat sendiri, seperti apa Madura ini. Orang-orang Madura memiliki sejarah yang panjang di Pontianak, karena itu saya ingin tahu, seperti apa pulau yang membentuk karakter orang Madura ini. Ternyata memang tempat yang keras. 

Sekarang mari kita kembali lagi ke liburan ke Karimunjawa. Bagaimana dengan cuacanya pas liburan berlangsung? Semuanya baik-baik saja dan teman-teman terlihat gembira, tapi yang agak mengejutkan adalah saat melihat ketua panitia membawa keluarga. Kesannya mendadak dan tak terduga, namun mungkin ini ada hubungannya dengan liburan tahun 2023 nanti. Siapa tahu? Mari nantikan! 

Tim Karimunjawa.

No comments:

Post a Comment