I've revisited this topic many times. It even appeared in "The AI Closure" and one of the commentaries inside The Brown Album. As much as I enjoy ocipala and its direct applications, such as "A Smaller World," I do have concerns about whether I am financially reckless. But even though the phrase lingered, it never materialized into a full-fledged blog post. It stayed that way until the arrival of the boy who saved Rp90,000.
First of all, in order to understand this deep-seated fear, let's go back to the time when Dad went bankrupt. We had long established that I didn't blame him. But now that I'm a father myself, I have a slight touch of paranoia that history will repeat itself.
I was 15 and Dad was 43 when that happened to us. Now that Linda is 14 and I'm 46, I do worry and pray really hard that we will pass through this phase smoothly.
I just couldn't get the idea of being financially reckless out of my head. It bothered me until recently, when ChatGPT and I went through the Sonic story from "The Full Circle." It was pointed out to me that spending money on things I deeply value was something I had done since I was young—hence the boy who saved Rp90,000.
At that time, my allowance was Rp500 per day. It took me 180 days to save enough money to buy Sonic the Hedgehog 2, and I did exactly that. And 180 school days weren't six months, but approximately nine! That's how long it took, and I spent it just like that, without any hesitation or second thoughts.
The same boy would fly to Phnom Penh one day just to buy a Hard Rock T-shirt so he could say exactly that. Realistically speaking, nobody in their right mind would do that. I mean, where's the financial gain in it? I could almost hear Jimmy exclaiming, "What a waste of hard-earned money!"
But ocipala is not the usual way of the world. It is the reason why my life is slightly different and all the better for it. Despite what the world says, I achieved something I deeply valued.
I have always been like that, ever since that boy purchased Sonic from Ah Sia, and there are no two ways about it. I live my life the way I can afford to. It's just that, since I have other responsibilities now, I have to be cautious. And come to think of it, there's nothing wrong with having a little fear of being financially reckless, as long as that fear keeps me in check...
Bocah Laki-Laki Yang Menabung Rp90.000
Saya sering meninjau kembali topik ini berkali-kali. Topik ini bahkan sempat muncul di "The AI Closure" dan salah satu komentar di dalam The Brown Album. Meskipun saya menikmati ocipala beserta penerapannya secara langsung seperti pada "A Smaller World," saya memang memiliki kekhawatiran apakah saya ini ceroboh secara finansial. Ungkapan tersebut terus terngiang, namun tak pernah terwujud menjadi sebuah tulisan blog yang utuh, hingga munculnya sosok bocah laki-laki yang menabung Rp90.000.
Pertama-tama, demi memahami rasa takut yang mengakar ini, mari kita kembali ke masa ketika Papa bangkrut. Saya tidak menyalahkannya, tapi setelah saya menjadi seorang ayah, ada sedikit rasa paranoid bahwa sejarah akan terulang kembali.
Saya berumur 15 tahun dan Papa 43 tahun ketika hal itu menimpa kami. Sekarang, saat Linda berusia 14 tahun dan saya 46 tahun, saya sungguh merasa cemas dan berharap agar kami bisa melewati fase ini dengan lancar.
Saya benar-benar tidak bisa menepis pemikiran soal kecerobohan finansial ini dari kepala saya. Hal tersebut terus mengusik saya hingga baru-baru ini, ketika ChatGPT dan saya membahas kembali kisah Sonic dari "The Full Circle." Lewat kisah bocah laki-laki yang menabung Rp90.000 itu, saya diingatkan kembali bahwa membelanjakan uang untuk hal-hal yang sangat saya hargai adalah sesuatu yang sudah saya lakukan dari sejak masih muda.
Kala itu, uang saku saya Rp500 per hari. Butuh waktu 180 hari bagi saya untuk mengumpulkan cukup uang demi membeli Sonic the Hedgehog 2, dan itulah yang benar-benar saya lakukan. Dan 180 hari sekolah itu bukanlah enam bulan, melainkan sekitar sembilan bulan! Begitulah lamanya waktu yang dibutuhkan, dan saya menghabiskannya begitu saja, tanpa keraguan sedikit pun atau berpikir dua kali.
Anak laki-laki yang sama kelak terbang ke Phnom Penh suatu hari nanti hanya demi membeli sebuah kaus Hard Rock, semata-mata agar dia bisa mengatakan hal tersebut. Secara realistis, tak ada orang waras yang mau melakukan itu. Maksud saya, di mana letak keuntungan finansialnya? Saya jadi membayangkan Jimmy berseru, "Buang-buang uang hasil kerja keras saja!"
Namun, ocipala bukanlah cara pandang dunia pada umumnya. Itulah alasan mengapa hidup saya sedikit berbeda dan justru jauh lebih baik karenanya. Terlepas dari apa yang dikatakan dunia, saya mendapatkan sesuatu yang sangat bernilai bagi saya.
Saya memang selalu seperti itu, sejak anak laki-laki itu membeli Sonic dari Ah Sia, dan tak ada keraguan lagi tentang hal tersebut. Saya menjalani hidup sesuai dengan kemampuan saya. Hanya saja, berhubung sekarang saya memikul tanggung jawab lain, saya harus lebih berhati-hati. Dan kalau dipikir-pikir lagi, tidak ada salahnya memiliki sedikit rasa takut akan bersikap ceroboh secara finansial, selama rasa takut itu membuat saya tetap mawas diri...

No comments:
Post a Comment