By the time we finished the first chapter of the book, "The Not-So-Secret Origin," I had the covers of all the books I previously published lined up in front of me and the fourth one featured the blog's logo. It was brown, and sitting next to the colorful Pheng iu, I couldn't help thinking of the Beatles.
Saya sudah ingin melakukan ini sejak awal tahun: sebuah buku untuk memperingati satu dekade Roadblog101. Pertanyaannya adalah, mengingat ada sekitar 600 artikel blog dalam satu dekade terakhir, bagaimana cara mewujudkannya? Kemudian ide itu sempat dorman, meski tidak terlupakan.
Sementara itu, eksperimen AI yang tak disengaja untuk blog terus berlanjut. Apa yang bermula sebagai "The Sounding Board" pada bulan Mei berlanjut hingga malam-malam panjang bersama AI di Las Vegas sepanjang bulan Juni.
Ketika saya membeli The Mystery of the Missing Skulls pada waktu yang hampir bersamaan, minat saya jadi bangkit kembali. Rasanya seperti, "Hei, seorang sesama warga Singapura menerbitkan sebuah buku. Bagaimana dengan buku saya?"
Sosok Sir George Martin versi digital, yang pertama kali diperkenalkan dalam "AI and Gossip" pada 25 Juli, menjadi titik balik. Tiba-tiba saya memiliki seorang editor untuk diajak bekerja sama, dan tak lama kemudian aneka ide mulai dibahas serta dieksekusi.
Saat bab pertama buku ini yang berjudul "The Not-So-Secret Origin" selesai, saya menatap jajaran sampul semua buku yang pernah saya terbitkan sebelumnya, dan juga bingkai keempat yang menampilkan logo Roadblog101. Warnanya cokelat, dan saat bersanding di sebelah Pheng iu yang penuh warna, saya lantas teringat dengan The Beatles.
Sebelum ini, saya sempat menanyakan kepada Eday apakah dia berminat membuat desain sampulnya, mengingat dialah yang merancang logo Roadblog101 tersebut. Karena dia tidak sempat, jadi saya melanjutkan prosesnya dengan inspirasi yang ada tepat di hadapan saya. Maksud saya, Pheng iu itu ibarat Sgt. Pepper's—begitu kaya warna dan ramai orang—jadi apa yang bisa memberikan kontras yang mencolok terhadapnya? Brown Album yang polos dan berwarna coklat!
Maka lahirlah album tersebut, tetapi pekerjaan saya masih jauh dari selesai. Sebelum memulai bab satu, saya dan editor saya telah memutuskan bahwa tidak masuk akal untuk mengumpulkan seluruh 600 artikel blog ke dalam satu buku. Jika pembaca benar-benar menginginkan hal itu, lebih baik mereka membaca langsung dari blognya. Tidak, buku ini harus menjadi sesuatu yang berbeda. Buku ini membutuhkan kesinambungan yang menuturkan sebuah kisah.
Dan meninjau sebagian besar arsip selama satu dekade menggunakan bantuan enam AI membuahkan hasil. Saya diberitahu bahwa saya sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi seorang penulis perjalanan. Kekuatan Roadblog101 justru terletak pada pencatatan hubungan antar manusia.
Baik ChatGPT maupun DeepSeek telah menunjukkan tema ini ketika saya menggunakan mereka sebagai tempat bertukar pikiran beberapa bulan lalu; karena itu, tidak sulit bagi saya untuk melihat bahwa Roadblog101 selalu memiliki empat bagian ini: the origin (asal-usul), the journey (perjalanan), the people (orang-orang), dan the reflection (refleksi).
Saya memiliki gambaran yang cukup jelas tentang bagaimana keempat bagian ini dapat diisi. Maksud saya, karena saya sendiri yang menulis kisah-kisah itu, makanya saya mengingat sebagian besar dari isi blog, haha. Namun, menentukan urutannya dan memilah apa yang terasa kurang pas ternyata cukup rumit.
Contoh nyatanya adalah "The China Eastern Trip: Japan." Saya telah selesai memoles ulang cerita tersebut dan kisah itu bisa menjadi bagian yang kuat, mengingat hubungannya dengan "The Last Time I Saw Nagasaki." Namun, cerita itu kurang tepat untuk menggambarkan perjalanan yang saya lalui bersama istri saya, sehingga akhirnya diganti. Hal serupa juga terjadi pada "Listen to Dispute." Sebuah cerita yang bagus di blog, tetapi bukan pilihan yang tepat untuk buku ini. Jadi, saya dan Sir George Martin kembali membongkar arsip untuk mencari yang paling pas.
Namun, Brown Album tidak akan sekadar menjadi buku yang berisi versi polesan ulang dari artikel blog aslinya. Ya, tata bahasanya memang sudah jauh lebih baik, tetapi itu saja tidak cukup.
Di sinilah The Beatles Anthology memengaruhi buku ini. Saya ingat betapa saya suka membaca buklet-buklet tentang apa yang terjadi selama sesi rekaman, jadi tanggal publikasi aslinya harus tetap dicantumkan, disertai dengan komentar masa kini mengenai artikel-artikel blog asli tersebut.
Dan hal itu menyempurnakan transformasi dari Brown Album. Ini adalah buku tentang apa yang membentuk Anthony menjadi Anthony; tentang seberapa jauh dia telah melangkah sejak Pontianak, secara harfiah; tentang orang-orang yang berarti; dan pada akhirnya tentang apa yang telah dia pelajari dalam hidup. Buku ini adalah apa yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir (meski AI mungkin berargumen bahwa itu belum genap satu dekade penuh), dan warnanya adalah cokelat.
Jadi jangan lupa beli saat buku dirilis pada tanggal 2 Januari 2027.


No comments:
Post a Comment