Total Pageviews

Translate

Sunday, September 23, 2018

The Exotic Delight

I sat on our bedroom floor the other night with my daughter in tow. As we were waiting for the sleepy feeling, I aimlessly glanced through the pictures of various dishes shown on my Swarm app. Before long, my daughter cheered if she saw something that she liked and she'd boo if she thought otherwise. It was kind of funny and it went on for a while (I had about 1000 pictures because I had checked in since 2014).

As we did that, it slowly dawned on me that Singapore really had a lot of cuisines to offer, from the Singapore delight to something exotic. Upon seeing the mouth-watering food, I was reminded again of the fact that Singapore is truly a melting pot. Even when we excluded the standard Indian, Malay and local Chinese culinary skills as well as the usual Thai, Korea and Japanese food, we still got plenty to eat here.

Enjoying the food at Inle Myanmar Restaurant with my old friend Taty.
Photo by Eday Ng.

First off, something that I never ate or tried before even after staying for a few years in Singapore was the Myanmar food. It took a lot of courage to get past the acquired taste (or strong odor in this case), but it was worth it. I remember the first time I tried it with my ex-housemates. We went to this restaurant called Inle Myanmar Restaurant at Peninsula Plaza. I didn't exactly know my way, so I ended up entering from the back door instead. The pungent smell was no joke, but I made it and we had a good time. Apparently Myanmar food is like the hybrid of Thai and Chinese food, which means it consists of salad, green curry, char kway teow and all the familiar cuisines. The unique dish, one that was often mentioned by my wife, was mohinga. It was tasty, but the most memorable one was, of course, the crispy eel. I had returned to the restaurant many times since the initial visit. Brought my parents, my brother-in-law, my colleagues and my friends there for a taste of Myanmar.

Next one that I'd like to share with you is the authentic Mainland Chinese food in Chinatown. I once tagged along with my colleagues and I was not exactly ecstatic when I heard about where our lunch destination was going to be. I mean, how different could it be with local Chinese food? I'd been to China and while the food was edible, I was not particularly fond of it. When we were at Dong Fang Mei Shi Fan Dian (东方美食饭店) and the Mainland Chinese colleague passed me the menu, I just smiled politely and muttered something like, "surprise me." I let them ordered and when I noticed that one of dishes was eggplants, I was skeptical. I disliked eggplants, but out of respect, I put on my brave face and gave it a bite. I was immediately blown away. It was good and crispy, unlike the gooey eggplants that I had before. And there were many more good stuff, but one that I would reorder myself time and again on my subsequent visits was gong bao chicken. The Northeastern style is good and delicious!

Gong bao chicken.

As for Western food, when I didn't feel like queuing for my lunch, I'd go for buritto bowl. The price was rather on a high side, which was probably the reason why there wasn't much queue, haha. Thanks to the tomato, cheese, black bean and avocado known as guacamole, the Mexican rice bowl tastes really fresh. It's totally different than other rice-based dishes such as nasi lemak or nasi uduk. When I had more time to spend in the evening, I'd go for German food. Beef goulash, a bowl of beef stew, was a nice appetiser before I went for German sausages and the tempting pork knuckle. After that, I'd wash them all down with Erdinger Weißbiers. Life could be that good, really!

Nevertheless, if those still weren't exotic enough for your taste, I guess this one would top the bill: the Lebanese cuisines, all came with the names that I couldn't even pronounce. There was this restaurant called Urban Bites on Telok Ayer Street, not very far from Amoy Street Food Centre. A French man introduced the place to me (oh yes, we Chinese were so careful we wouldn't dare to try it out ourselves) and I fell in love with the lunch set immediately. It was a plate of rice with two types of kebab, some flatbread and hummus. Very nice. But one day, the restaurant shifted the location a bit. It also changed the interior design and the menu, too. When I asked, I was informed that the previous owner, the father, had passed away. That explained why. Under the new management, the set lunch is now different from day to day and it's a good thing. Dawood basha is basically a bowl of meatballs with a very rich taste. Mloukhieyeh is meat cooked with vegetables, very unusual. Kousa mehshi is... I don't know, I'd forgotten what that was, but I reckoned it was also good, haha.

So there you go, a glimpse of exotic delight in Singapore. There are more, such as Filipino cuisines or Vietnamese (although it seems like Vietnamese food is a bit mainstream these days). Oh, there was even a Costa Rican food at Lau Pa Sat, but too bad, it'd been closed down recently. I have yet to find Cambodian and Laotian restaurants here, but I'm quite optimistic that we can find various food from Southeast Asia in Singapore. Until then, keep eating!

Dawood basha.



Masakan Eksotis

Suatu malam, saya duduk di lantai sementara putri saya tengkurap di atas ranjang yang berada di belakang saya, mengamati apa yang saya lakukan. Saat itu, selagi menantikan rasa kantuk, saya melihat kembali foto-foto makanan yang ada di aplikasi Swarm. Putri saya berseru riang saat melihat makanan yang disukainya. Dia juga mencemooh apa yang menurutnya tidak enak. Interaksi spontan yang lucu itu berlangsung cukup lama karena saya memiliki sekitar 1000 gambar (oh ya, ini adalah hasil check-in sejak tahun 2014). 

Saat kami melakukan hal tersebut, perlahan-lahan saya sadari bahwa Singapura benar-benar memiliki beraneka jenis makanan, mulai dari selera lokal sampai sesuatu yang eksotis. Sewaktu saya melihat makanan-makanan yang menggiurkan ini, saya teringat lagi bahwa Singapura adalah tempat bertemunya beragam budaya. Seandainya seorang turis dengan iseng mencoret makanan-makanan yang sudah lumrah dijumpai dari daftar menunya, misalnya masakan India, Melayu, Cina serta Thai, Korea dan Jepang, turis tersebut masih akan menemukan berbagai makanan lezat di Singapura.

Masakan pertama yang ingin saya ceritakan adalah masakan Myanmar. Saya ingat saat pertama kali mencobanya bersama teman-teman serumah saya. Kita berjanji untuk menikmati makan malam di restoran Inle Myanmar yang berada di Peninsula Plaza. Saya tidak begitu paham jalan menuju ke restoran tersebut, jadi saya akhirnya muncul di sana melalui pintu belakang. Aroma masakannya menyerupai bau rebung sangatlah menusuk, namun saya bertahan dan akhirnya bersantap malam di sana. Ternyata masakan Myanmar itu seperti kombinasi masakan Thai dan Cina. Menunya terdiri dari salad, kari hijau, kwetiau goreng dan masih banyak lagi. Satu yang unik, yang sering disebut oleh istri saya, adalah mohinga. Masakan yang berbahan dasar telur, daging dan mie putih ini lumayan enak, tapi yang paling berkesan dari masakan Myanmar adalah belut goreng yang garing. Saya kembali lagi ke restoran tersebut setelah kunjungan perdana itu. Saya membawa orang tua saya, adik ipar, rekan kerja dan teman-teman untuk mencicipi sedapnya masakan Myanmar yang jarang diketahui orang.

Kunjungan perdana ke restoran Cina Daratan. 

Yang menarik untuk dibahas berikutnya adalah masakan Cina Daratan yang otentik. Saya pertama kali ke sana bersama kolega saya dan ketika saya mendengar tentang restoran yang hendak kita tuju, saya terus-terang merasa tidak tertarik. Di dalam hati saya berpikir, apa bedanya masakan Cina lokal dan Cina Daratan? Lagi pula saya sudah pernah ke Cina dan masakannya biasa-biasa saja. Tatkala kita tiba di Dong Fang Mei Shi Fan Dian (东方美食饭店) dan kolega Cina Daratan menyodorkan menu restoran, saya hanya tersenyum sopan dan mempersilahkannya memilih. Ketika pelayan menyajikan terong, saya kian ragu. Saya tidak suka terong, namun saya mencicipinya karena sudah dipesan. Dan saya terkejut. Tidak seperti masakan terong yang biasanya lembek, gaya masakan Timur Laut Cina ini garing dan enak dikunyah. Menu-menu berikutnya juga nikmat, tapi yang saya ingat betul adalah gong bao chicken. Saya pasti memesannya kalau berkunjung ke sana! 

Bicara tentang masakan Barat, di kala saya hanya memiliki sedikit waktu dan tidak sempat untuk antri, biasanya saya akan membeli burrito bowl yang cepat-saji. Agak mahal sebetulnya, tapi itu mungkin alasannya kenapa antriannya tidak panjang, haha. Berkat bahan makanan seperti tomat, keju, kacang hitam dan alpukat yang dikenal sebagai guacamole, masakan Meksiko ini terasa segar dan mentah. Pokoknya sangat berbeda dengan masakan lainnya yang juga berbasis nasi, misalnya nasi lemak atau nasi uduk. Di saat saya memiliki waktu untuk bersantai di kala makan malam, saya suka menikmati makanan Jerman. Ada yang namanya beef goulash, daging sapi yang direbus secara perlahan sehingga empuk, cocok disantap sebagai hidangan pembuka. Setelah itu, saya biasanya lanjut dengan sosis Jerman dan kaki babi panggang, lalu membasuh dahaga saya dengan Erdinger Weißbiers. Hidup memang nikmat di kala kita makan enak!

Burrito bowl, menu masakan Meksiko.

Jikalau menu-menu di atas belum cukup eksotis untuk selera anda, saya rasa yang berikut ini akan menduduki peringkat puncak: masakan Lebanon yang bahkan tidak bisa saya baca namanya! Di Telok Ayer Street, tidak jauh dari pujasera Amoy Street, ada sebuah restoran bernama Urban Bites. Saya pertama kali ke sini bersama seorang berkebangsaan Perancis dan saya langsung suka menu makan siangnya: sepiring nasi dengan dua jenis kebab dan juga roti putih yang bulat-pipih dan disantap dengan cara diolesi humus. Akan tetapi, ketika saya ke sana lagi pada suatu hari, tiba-tiba saja restorannya pindah lokasi dan berbeda tata-ruang serta menunya. Ketika saya bertanya, saya diberitahu bahwa pemilik sebelumnya, sang ayah, telah meninggal. Restoran ini sekarang diurus oleh sang putri dan kini menu makan siangnya berbeda dari hari ke hari. Tidak terlalu buruk juga idenya, sebab sekarang saya bisa mencicipi lebih banyak jenis makanan Lebanon. Ada yang namanya dawood basha yang pada dasarnya adalah semangkok bakso. Ada juga yang disebut mloukhieyeh, daging yang dimasak dengan sayur. Selanjutnya ada kousa mehshi, tapi saya lupa apa sebenarnya masakan ini, haha. Yang saya ingat, rasanya cukup enak. 

Jadi demikianlah sekilas tentang makanan eksotis di Singapura. Masih ada lagi masakan lain seperti menu Filipina dan Vietnam (walaupun masakan Vietnam sebenarnya sudah cukup umum sekarang ini). Oh, dulu di Lau Pa Sat bahkan ada yang jualan masakan Costa Rica, tapi sayang sudah tutup. Saya belum menemukan restoran Kamboja dan Laos di sini, tapi saya rasa masakan Asia Tenggara harusnya bisa ditemukan di sini. Saya akan kabari kalau ketemu, tapi sementara anda menunggu, silahkan dicoba dulu rekomendasi di atas!

Menikmati makanan Jerman bersama teman-teman. 

No comments:

Post a Comment