Total Pageviews

Translate

Saturday, May 12, 2018

The Happy Hours

Drinking is never part of Pontianak's culture. At least it wasn't back then, when I was still living there. I was brought up with an understanding that drinking was closely associated with bad habits. I remember drinking only once there when I was in college. There was this cafeteria in front of Ligo Mitra supermarket and there I was, I think with Hartono and may be Ardian, too, sharing a bottle of Bintang beer. We drank it with ice and it was a horrible experience.

Many years later, when I came to Singapore, a friend of mine, Endrico, introduced me to Hoegaarden. The Belgium beer was good and I grew to like it. Sensing that he got another drinking buddy, Endrico started encouraging me to hang out with him and his fellow debt collectors in the pub. We went to this place called Addicted in Bugis and... that seemed to be the first and last time we ever went there, haha. I was new in town and I felt kind of guilty that I went drinking when the parting message from my parents advised me to do the exact opposite.

The Gratitude members + two guests.
From left: Jesslyn, Bernard, Isaac, Anthony, Jerold and Tony.

Then I joined a local broking firm and the job often ended with drinking, be it with customers, colleagues (including my best Singaporean friend, Bernard) and, later on, my boss (oh yeah, the man drank more often than having his dinner). I slowly learnt that drinking is part of the culture here, especially in the financial industry. Furthermore, it was actually quite fun and I enjoyed it.

Within our small circle, what was started as happy hours between me and Bernard was developed into a proper dinner and hang out. We called it Gratitude and more often than not, we would meet at the New Harbour Cafe, ordering appetisers such as Hainanese roast pork, beef cubes and escargots before we had the main dish. For the drinks, it was Erdinger for Bernard, Jerold and I while Isaac would be having Guinness. We took turn in hosting the event and it lasted seven years before we ended it recently.

The legendary Hainanese roast pork.

Now, before I explain why I like drinking as part of the hang out activity, I'll share with you the categories that I often use for the alcohols out there. First, there is beer, ranging from Bintang, Tiger, Heineken, Asahi, Budweiser, Kronenbourg 1664 and many more. Then there is wine, the white and the red. I dislike both as wine usually has aftertaste. The last time I had it with Eday, I woke up inside toilet after the bouncer banged the door during the closing time. The last one is hard liquor such as whisky. Some people like it neat, but I prefer it to be diluted with ice and soda, otherwise it'll be very hard to drink. Furthermore, if you have it too much, it may cause hangover when you wake up the next day.

From the description above, I guess you can tell that I love beer the most. It's refreshing from the moment you have the first sip. You'll feel rejuvenated after a long day at work, you'll feel refreshed in a hot and humid evening and you'll feel warm in a cold weather. With beer, it just works. But that's just the beginning. I also like the feeling of getting high when the alcohol kicks in. I always think that our brain has a way to restrain our thoughts, therefore I find alcohol very liberating. It's like you finally overcome the state of consciousness and think further than your brain will normally allow.

The last Gratitude.

In my case, I enjoy the dreamlike, nonsensical conversation. This is why drinking and hanging out with old friends come hand-in-hand. We could talk about everything under the sun. Some are purely for the sake of laughing out loud, others can actually be something that you'll be seriously thinking about on the following day.

Having said that, is drinking a good habit and is there anything that I don't like about drinking? I can't really say if it's good habit or good for health, but I think it's okay if you drink moderately. I don't drink everyday and I don't drink at home, but once in a while, I do drink after work. As for what I don't like about drinking, I don't enjoy bottoms up. That is taxing!

Being forced to "bottoms up" at Isaac's wedding.


Saat-Saat Gembira

Menikmati alkohol bukanlah bagian dari budaya Pontianak, paling tidak saat saya masih tinggal di sana. Saya dibesarkan dengan pengertian bahwa meminum minuman keras itu adalah sebuah kebiasaan buruk. Saya ingat bahwa saya pernah mencoba satu kali, sewaktu saya duduk di bangku kuliah. Ada sebuah kafetaria di depan supermarket Ligo Mitra dan di sanalah saya, Hartono dan Ardian berbagi sebotol Bir Bintang. Kita minum dengan gelas yang dipenuhi es batu. Sungguh suatu pengalaman yang buruk karena tidak nikmat rasanya!

Beberapa tahun kemudian, ketika saya datang ke Singapura, teman saya Endrico memperkenalkan saya pada Hoegaarden. Bir dari Belgia ini terasa mantap dan saya pun mulai menyukainya. Akan halnya Endrico, dia merasa memiliki teman baru untuk menikmati alkohol, jadi dia mulai mengajak saya untuk turut bergabung bersama rekan-rekan kantornya untuk minum di pub. Suatu ketika saya ikut dengannya ke sebuah tempat yang bernama Addicted (yang artinya kecanduan) di kawasan Bugis dan... sepertinya itu pertama dan terakhir kalinya kita ke sana, haha. Saat itu saya masih tergolong baru di Singapura dan ada perasaan bersalah ketika pergi minum, terutama karena salah satu pesan orang tua saya saat merestui saya ke Singapura adalah jauhilah alkohol.

Saat merayakan ulang tahun Ardian yang ke-36.
Dari kiri: Ardian, Rudy, Endrico dan Anthony.

Setelah itu, saya bergabung dengan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jual-beli kontrak derivatif dan seringkali pekerjaan saya berakhir dengan minum-minum bersama klien, rekan kerja (termasuk teman baik saya, Bernard) dan, beberapa waktu kemudian, direktur perusahaan saya (oh ya, bos yang satu ini lebih sering minum dibandingkan makan malam). Secara perlahan saya sadari bahwa menikmati minuman beralkohol adalah bagian dari kehidupan di Singapura, apalagi bagi mereka yang bergerak di bidang industri finansial. Di samping itu, saya sendiri cukup menikmatinya, jadi tidak ada alasan untuk menolak, haha. 

Di dalam lingkup pergaulan kantor, apa yang bermula dari kumpul-kumpul pada saat jam gembira (biasanya beli satu gratis satu gelas bir pada jam gembira ini) pun berkembang menjadi santap malam dan minum yang kemudian kita beri nama Gratitude. Biasanya kita mengadakan acara ini di New Harbour Cafe. Rutinitas ini dimulai dari hidangan pembuka seperti babi bakar Hainan, sapi kubus dan bekicot. Setelah itu barulah masing-masing memesan menu utama. Untuk minumnya, Bernard, saya dan Jerold akan menenggak Erdinger sementara Isaac memilih Guinness yang hitam pekat. Kita bergantian menjadi tuan rumah dari acara ini selama tujuh tahun lamanya sebelum kita sudahi baru-baru ini.

Menjelang Natal di Orchard.
Dari kiri: Rudy, Anthony, Heriyanto dan Endrico.

Oh ya, sebelum saya jelaskan mengapa saya menyukai keberadaan alkohol sebagai bagian dari acara kumpul bersama, saya akan coba jelaskan tipe-tipe alkohol berdasarkan kategori yang sering saya pakai. Pertama, ada yang namanya bir, contohnya Bintang, Tiger, Heineken, Asahi, Budweiser, Kronenbourg 1664 dan masih banyak lagi. Kemudian ada yang namanya anggur, baik yang merah maupun putih. Saya tidak suka anggur karena ada rasa yang tersisa di lidah setelah anggurnya diminum. Terakhir kali saya minum anggur bersama Eday bertahun-tahun silam, saya tertidur di toilet St. James dan baru terbangun setelah karyawannya menggedor-gedor pintu toilet setelah tempatnya tutup. Kategori ketiga adalah minuman keras seperti wiski. Ada yang suka meminumnya tanpa dicampur dengan apa pun, tapi saya lebih suka yang sudah dilarutkan dengan es batu dan soda sehingga tidak terlalu keras aromanya. Selain itu, minuman tipe terakhir ini seringkali menyebabkan pusing yang berkepanjangan pada keesokan harinya jika dikonsumsi secara berlebihan.

Dari deskripsi di atas, anda bisa menerka bahwa saya paling menyukai bir. Rasanya begitu menyegarkan! Cocok diminum setelah hari yang panjang dan melelahkan di kantor, cocok pula di malam yang panas dan juga di cuaca dingin. Pokoknya bir itu cocok untuk segala suasana. Selain itu, saya juga menyukai perasaan melayang-layang yang timbul setelah alkoholnya mulai bekerja. Saya selalu merasa bahwa otak kita seringkali mengekang pemikiran kita dan baru menjadi santai sesudah dibasuh dengan alkohol. Rasanya seperti terbebas dari belenggu kesadaran sehingga kita berpikir lebih jauh dari biasanya.

Menyambut kedatangan Parno di Brotzeit, restoran Jerman.
Dari kiri: Endrico, Anthony, Surianto, Parno dan Jimmy.

Saya senantiasa menyukai percakapan yang ringan dan jenaka. Karena inilah alkohol dan kumpul-kumpul bersama teman adalah pasangan yang serasi. Dengan alkohol, kita bisa berbicara apa saja berjam-jam lamanya. Beberapa topiknya mungkin hanya sekedar untuk bercanda dan tertawa, tapi tidak jarang pula ada topik yang akhirnya membuat anda berpikir serius pada keesokan harinya, sebab itu adalah sebuah ide baru yang tidak pernah anda pikirkan sebelumnya. 

Jika anda bertanya apakah konsumsi alkohol itu kebiasaan yang baik, saya tidak punya jawabannya, jadi kembali lagi ke diri anda sendiri. Yang bisa saya sarankan adalah minumlah secara moderat. Saya sendiri tidak minum setiap hari dan tidak pula minum di rumah. Paling juga sesekali setelah pulang kerja. Sebagai penutup, bila ada satu hal yang tidak saya sukai dari acara minum-minum, maka itu adalah tradisi minum sampai habis setelah bersulang. Rasanya seperti terlalu memaksakan diri. Minum itu harusnya santai!

Eday memulai gelas pertama.

No comments:

Post a Comment