Total Pageviews


Saturday, April 15, 2023

Book Review: The Rape Of Nanking

I can't remember when I first heard of the Nanjing Massacre, but it felt like I had known about it for the longest time. Must have read it on Wikipedia years ago. The Memorial Hall in Nanjing was one of the best museums I ever visited. Right at the end of the gallery, I saw the words from survivor Li Xiuying hanging on the wall: remember history, but not with hatred. Not only it summed up what the museum was all about, but it was also a powerful reminder, one that I still vividly remember today. 

Fast forward to five years later, I happened to read about the Nanjing Massacre again on Time magazine recently. It somehow brought me back the time when I passed by the statue of Iris Chang as I exited the museum. She died young, tragically killed herself as he was suffering from depression. For those who never heard of her, Iris was the author of a book called the Rape of Nanking. And this is how I ended up borrowing the book from the library.

The Rape of Nanking.

Now, throughout the years, I had heard about how influential the book was. But none of this prepared me for what I was about to read. It was fast-paced and structured. Informative and disturbing at times due to the graphic description of the events. 

It opened with historical moments in Japan that preceded the war. Once the prelude ended, it was like sitting on the front seat to watch how the Japanese troops made their way to Nanjing. A killing spree that happened next left not much to imagination. The choice of words used to describe the atrocities were beyond what I had ever read before! 

It was one hell of a massacre, all right. But amidst the chaos and brutality, hope lingered and kindness did shine. Then came the aftermath and the story finally drew to a close as it examined the attempts to cover up and erase the event from history. 

The whirlwind of information ended as fast as it came. Iris' storytelling style was as smooth as it could be. If not for its content, I would have called it an easy reading. But it isn't and it's never meant to be one. It is supposed to be a reminder, that no matter how bleak or shameful it was, the massacre did happen. Just like the slogan in the museum said, "bear history in mind, cherish peace."

When we visited the museum in Nanjing.

But history aside, what's the key takeaway for me? All this while, I couldn't reconcile the two contradicting facts about the wartime Japanese troops' cruelty and the politeness of Japanese people when I visited the country. This book finally gave me the answer.

Almost a hundred years ago, the Japanese soldiers believed the emperor was divine and they lived solely to serve the emperor. If they themselves were worthless, then the Chinese were just a bunch of pigs that they could slaughter without blinking. That's the danger of a doctrine gone wrong. As I lived through the '98 riots and ethnic violence of Dayak-Madura, it's a plausible explanation that I can accept. 

 Ulasan Buku: Pemerkosaan Nanking

Saya tidak ingat lagi kapan pertama kalinya saya mendengar tentang Pembantaian Nanjing, tapi rasanya saya sudah lama tahu akan hal ini. Mungkin saya baca di Wikipedia bertahun-tahun silam. Memorial Hall di Nanjing boleh dikatakan sebagai salah satu museum terbaik yang pernah saya kunjungi. Di akhir galeri, saya melihat kata-kata dari Li Xiuying, korban yang selamat dari pembantaian: ingat sejarah, tapi tidak dengan dendam. Ucapannya itu menyimpulkan museum tersebut dengan baik dan juga menjadi nasehat yang selalu saya ingat hingga hari ini. 

Lima tahun setelah kunjungan ke Nanjing, saya kebetulan membaca lagi kisahnya di majalah Time. Saya jadi terkenang dengan saat saya melewati patung Iris Chang saat saya keluar dari museum. Dia meninggal muda, bunuh diri karena depresi. Bagi yang tidak tahu siapa dia, Iris adalah pengarang buku the Rape of Nanking. Saya lantas meminjam buku karangannya dari perpustakaan

Permerkosaan Nanking, karya Iris Chang.

Nah, sebelum ini, saya sudah sering dengar tentang pentingnya buku ini. Namun apa yang saya ketahui tidak membuat saya siap dengan apa yang saya baca. Cepat dan terstruktur, deskripsi di buku ini juga sangat detil dan mengerikan. 

Tulisan Iris dibuka dengan sejarah di Jepang sebelum perang dimulai. Setelah itu, pembaca bagaikan duduk di kursi depan dan menyaksikan langsung bagaimana tentara Jepang menyerbu ke Nanjing. Pembantaian yang terjadi dijabarkan dengan detil, sampai-sampai tidak sulit untuk membayangkannya lagi. Kata-kata yang dipakai untuk melukiskan kekejaman Jepang benar-benar berbeda dengan kalimat dari buku-buku yang biasa saya baca.

Di tengah kebrutalan Jepang yang menimbulkan kekacauan, masih tersisa harapan dan kebaikan dari orang-orang asing yang bertahan di Nanjing dan mendirikan suaka untuk membantu dan melindungi orang Cina. Kemudian perang usai dan cerita pun diakhiri dengan pengamatan terhadap upaya menghilangkan jejak kekejaman ini dari catatan sejarah. 

Gaya Iris dalam bercerita tergolong enak untuk dibaca, meski berat dan bertubi-tubi informasinya. Kalau bukan karena topiknya, saya bisa menyebutnya sebagai bacaan santai. Akan tetapi buku ini lebih merupakan rangkuman catatan dan peringatan bahwa tidak peduli seberapa kelamnya sejarah, pembantaian ini pernah terjadi. Ini sejalan dengan slogan di museum, "ingatlah sejarah, hargai perdamaian." 

Ketika kita berkunjung ke museum di Nanjing.

Di samping sejarah, apalagi yang saya dapatkan dari buku ini? Selama ini, saya selalu sulit membayangkan kenapa laskar Jepang di zaman perang sungguh kejam sementara keramahan orang Jepang saat saya datang sebagai turis sama sekali tidak tertandingi? Buku ini akhirnya menjawab pertanyaan saya. 

Hampir 100 tahun silam, tentara Jepang percaya bahwa kaisar adalah titisan dewa dan mereka hidup untuk melayani kaisar. Jika nyawa mereka sendiri tidak berharga, maka orang-orang Cina lebih rendah lagi martabatnya, hanya sekumpulan babi yang patut dijagal. Inilah bahaya dari doktrin yang keliru. Karena saya pernah melewati Kerusuhan '98 dan perang etnis Dayak-Madura, saya bisa menerima penjelasan ini. 

Saturday, April 8, 2023

The Details

I told you about my creative process a while ago. Turning ideas into something tangible is what I do. It's fun. So addictive. But one thing I didn't tell you previously, the defining factor that was equally exciting, is the fact-checking process.

Oh yes, I'm really proud of the roadblog101's accuracy. My memory is pretty good that it enables me to tell story the way it happened. More often than not, I remember the events vividly. But names of places sometimes eluded me, especially when they sounded so foreign. This is when the fact-checking began.

At the sake bar I was looking for. 

The recent Japan trip series reminded me again how I normally did this. In this particular story, I was searching high and low for the name of the sake bar I went with Eday. As the place was an integral part of the story, I'd like to include it. But even enlarging Asakusa region on Google Maps didn't help! I still couldn't find it.

Then I remember that I paid the bill using my debit card. I searched for the payment record and I found a long, odd name in one word. As I couldn't read Japanese, I didn't even realize that the name was actually truncated. But it was sufficient for me to use it as a keyword. The moment I googled it, the name appeared: Sake no Daimasu Kaminarimon. It worked!

Timeline on Google Maps.

Another trick I learnt from writing the Japan series is how to make use of Timeline on Google Maps. Now, I'm not sure how many of you are aware of this, but Google is tracking our movement. I could actually open Google Maps and click the Timeline menu to see where I had been from morning till evening, let's say, two weeks ago. It'd show me the whole day route I took. By using this, I could ensure that similar events didn't get mixed up. 

Then of course there is my all-time favorite: Swarm. I've told you this before on a separate story, but let's summarize it here. This app is extremely useful in searching for the places I had been. I can use the keyword I roughly remember, I can search based on the city and I can even zoom into the map to find the location.

A Swarm check-in.

Lastly, and this perhaps works only for me, I actually used the Hard Rock t-shirt as a marker in my mind. For example, the Fukuoka t-shirt reminds me of the visit to Madura, the Paris t-shirt was memorable because I wore it during the trip to Karawang and so forth. Most, if not all t-shirts, were closely associated to a certain event in my life.

So there you go. This is how I got the details right. But why bother? Well, the answer is, because it's the right thing to do. It doesn't matter if the readers check the facts or not. But on a personal level, it is fun. Quite often it is one head-scratching moment, I'll admit, but when you figure it out, it is like, "eureka!"

And I enjoy that feeling.

Visiting Madura.

Detil Cerita

Saya sudah bercerita tentang proses kreatif saya dalam menulis beberapa waktu lalu. Mengubah ide menjadi sesuatu yang bisa dibaca adalah sesuatu yang saya lakukan. Seru dan bikin ketagihan pula. Namun satu hal yang tidak saya jabarkan sebelumnya, yang tidak kalah serunya juga, adalah proses memeriksa kembali fakta cerita. 

Oh ya, saya sangat bangga dengan keakuratan roadblog101. Daya ingat saya tergolong bagus sehingga memungkinkan saya untuk bercerita sesuai dengan kejadian. Saya bisa mengingat rangkaian peristiwa dengan baik. Yang kadang agak menyulitkan itu adalah nama tempatnya, terutama yang berbau asing. Di kala seperti inilah proses pengecekan fakta dimulai.  

Di sake bar yang saya cari-cari.

Liburan ke Jepang baru-baru ini mengingatkan saya kembali, bagaimana saya mengerjakan proses ini. Di salah satu episode, saya mencari nama bar sake yang saya kunjungi bersama Eday. Karena tempat ini adalah bagian integral dari cerita, saya ingin memasukkan namanya. Akan tetapi saya tidak bisa menemukannya, meski sudah saya perbesar kawasan Asakusa di Google Maps. 

Kemudian saya teringat bahwa saya membayar tagihan tersebut dengan kartu debit. Saya cari data pembayarannya dan menemukan sebuah kata yang panjang dan mirip bahasa Jepang. Karena saya tidak mengerti bahasa Jepang, saya bahkan tidak tahu bahwa namanya terpotong. Kendati begitu, apa yang saya temukan ini cukup untuk dijadikan sebagai kata kunci. Begitu saya cari, namanya pun muncul: Sake no Daimasu Kaminarimon!

Timeline di Google Maps.

Trik lain yang saya pelajari dari kisah Jepang ini adalah cara menggunakan Timeline di Google Maps. Saya tidak tahu apakah anda pernah menyadari bahwa Google sebenarnya memantau pergerakan kita setiap hari. Dengan demikian, saya bisa membuka open Google Maps Dan memilih menu Timeline untuk melihat di mana saja saya seharian berjalan, misalnya dua minggu silam. Dengan demikian saya tidak akan keliru dalam bercerita bilamana ada dua peristiwa yang nyaris serupa terjadi dua hari berturut-turut. 

Kemudian ada pula favorit saya dalam memastikan nama tempat: Swarm. Sudah pernah saya ceritakan apa sebenarnya Swarm ini, tapi mari kita rangkum lagi. Applikasi ini sangat berguna untuk mencari tempat yang sudah dikunjungi. Saya tinggal gunakan kata kunci yang saya ingat, saya bisa cari berdasarkan nama kota dan bisa pula saya lacak berdasarkan peta lokasi.


Terakhir, dan yang satu ini mungkin hanya bisa diterapkan oleh saya sendiri, adalah kaos Hard Rock yang identik dengan tempat-tempat tertentu. Misalnya kaos Fukuoka selalu mengingatkan saya pada Madura, kaos Paris berkaitan dengan kunjungan ke Karawang dan sebagainya. Hampir semua kaos ada kenangan tersendiri.

Jadi demikian caranya bagaimana saya bisa mendapatkan detil yang akurat. Kalau pertanyaannya adalah, apa perlu sampai segitunya? Jawabannya adalah karena ini adalah hal benar untuk dilakukan. Tidak masalah apakah pembaca mengecek ulang nama tempatnya atau tidak. Namun di sisi yang lebih personal, semua ini asyik untuk dikerjakan. Ya, seringkali sampai bikin garuk kepala, apa nama tempatnya ini, tapi begitu ditemukan, rasanya seperti, "eureka!"

Dan saya suka perasaan itu.

Di Madura.

Thursday, March 30, 2023

The Japan Trip: Hakone And Our Last Day

Our trip to Hakone started early and began with, again, the hard truth that speed came with a price. Our JR East Pass was much cheaper than the regular JR Pass, therefore we could only take the normal train from Ueno to Odawara Station. By the time we reached there, Eday and friends had finished their breakfast.

All of us then travelled together from Odawara to Hakone-Yumoto Station. From there onwards, the whole thing felt almost like déjà vu, because I had done it almost a decade ago, when I had a family trip in 2014! That bridge above the stream, the bus stop and the jetty! I was there, did them all in the same sequence!

Gunawan on the bridge above the stream.

The slight difference here was the visit to Hakone Shrine's lakefront torii. It's the one that people see from the boat and we walked to the shrine to see the other side of the torii gate. There was a queue when we got there, a popular tourist spot, apparently. We waited a bit for our turn to take pictures. 

As we headed back, we saw ducks swimming playfully on the lake. But the leisure walk immediately turned into running when we realized the ship was about to depart. We managed to get into the ship and sailed across Lake Ashi. It was nice, but fairly breezy. We eventually decided to get warm inside the cozy passenger deck as the pirate ship approached Togendai Station. 

Inside the pirate ship.

The station has a restaurant, so we grabbed our lunch before continuing our journey. In normal circumstances, we would have taken the Hakone Ropeway from Togendai to Owakudani on the mountaintop, but it was under maintenance, so we took a bus instead. 

It was here in Owakudani that Robinson Travel failed to deliver. We had seen sakura and snow so far, but Mount Fuji was nowhere to be seen that day, thanks to the fog. Even Parno must be so agitated that he spontaneously blurted out, "but where's Fuji Film?" 

And everybody laughed at his malapropism.

Aming Coffee supporters in Owakudani.

But it was also here that a historical moment happened. You see, I have always been a fan of Aming Coffee since 2017, when I interviewed the man himself. I always thought of Aming Coffee as our kind of Hard Rock Cafe, the one thing that is good from our hometown Pontianak. So on the last day we were together in Japan, we wore the Aming Coffee t-shirt. We embraced the freezing cold weather (you could tell from Parno's expression) and took the picture in Owakudani. It is now hanging proudly in my living room.

From Owakudani, we continued the journey with ropeway, tram and train. We were eventually back to where we began, then we hopped on the next train back to Tokyo. We stopped at Shinjuku Station and Parno, who was so determined not to get lost again, followed Eday closely. He even followed Eday going round the station pillar, not realizing that he was actually tricked into doing so. Now this is following someone blindly! Literally!

BL and Japanese girl he got to know in the train to Shinjuku.

We went our separate ways from Shinjuku. Seven of us went back to Akihabara to check out the seven-story Pop Life Department M's, the pachinko parlor and the porno DVD shop in the nearby basement. After that, we visited the maid cafe called @Home Cafe. 

This was one unique experience. The waitress dressed like a maid and the nickname of ours was Kitsune. She wore a surgical mask, so half of her face was covered, but she looked more like Caucasian than Japanese. When the maids served us, the whole interaction was very animated. The story was bombastic, the expression was over the top. 

At maid cafe.

Surianto informed us he couldn't make it, so we told the maid that Parno's desk had only three people. When the maid saw the bill charging for four guests, she acted surprised and threw her hands in the air, so anime-like that she got us laughing. Then, when the drinks were served, there were some gestures we gotta do and mantras we gotta say, something sounded like, "moe moe kyuutttt." 

Later on, before we went back to the hotel, we had our supper at McDonald's. Parno grumbled that we still ate even though it had been quite late at night, but he turned out to be the one eating the most, haha. As he was coughing a bit, Ardian eventually took away the fries for his own good. 

At Mcdonald's.

The night ended with us packing our luggage and gambling. We had so many coins by the end of the trip that losing the bets was not necessary a bad thing because we could finally get rid of the coins! Susan and Cicilia won that night.

The next morning, things were coming to an end. We had our last outing together in Asakusa. I had my last breakfast with Eday and Muliady, then Eday and I went to Tully's for coffee. For one last time, we saw how Surianto always appeared unexpectedly as he took the escalator down right in front of us. Then Eday, Taty, Surianto and I checked out. Eday headed to Narita while the three of us went to Haneda, going back to Singapore via Manila...

Parno and Eday: two old friends in Japan.

Liburan Ke Jepang: Hakone Dan Hari Terakhir

Kunjungan ke Hakone dimulai sejak pagi buta dan sekali lagi kita diingatkan kembali dengan kenyataan bahwa ada harga, ada kecepatan. JR East Pass yang lebih murah harganya dari JR Pass hanya memungkinkan kita untuk naik kereta biasa dari Ueno ke Stasiun Odawara. Ketika kita tiba di stasiun tersebut, Eday dan kawan-kawan sudah selesai sarapan.

Kita semua lantas melanjutkan perjalanan lagi, kali ini dari Odawara ke Stasiun Hakone-Yumoto. Apa yang terjadi setelah itu terasa seperti déjà vu karena sudah pernah saya lakoni hampir 10 tahun silam, sewaktu saya berlibur bersama anak-istri di tahun 2014. Jembatan merah di atas sungai, halte bis yang sama dan juga pelabuhan di danau! Semuanya sudah saya lakukan dengan urutan yang sama! 

Gunawan di Hakone.

Yang sedikit berbeda di sini adalah persinggahan kita ke gerbang torii Kuil Hakone yang menghadap danau. Ini adalah gerbang yang sering terlihat di brosur dan kita berjalan ke kuil untuk melihat gerbang ini dari sudut pandang yang berbeda. Ada antrian ketika kita sampai di sana. Cukup populer rupanya. Kita pun menanti sebentar untuk mengambil foto. 

Kita melihat bebek yang berenang di danau saat berjalan kembali ke pelabuhan. Akan tetapi kapal akan segera berangkat, jadi kita pun bergegas. Setelah menunjukkan karcis, kita naik ke kapal yang menyeberangi Danau Ashi dan membawa kita ke Stasiun Togendai. Kita sempat mondar-mondar di atas kapal, namun angin dingin akhirnya memaksa kita untuk turun ke dek yang hangat. 

Di dalam kapal bajak laut.

Setelah kapal berlabuh, kita bersantap siang di Togendai View Restaurant. Lantai berikutnya adalah tempat untuk menaiki kereta gantung, tapi karena sistemnya kebetulan sedang dicek, kita akhirnya menaiki bis menuju ke Owakudani. 

Dan Robinson Travel gagal menunaikan janjinya di Owakudani. Sejauh ini kita sudah melihat bunga sakura dan salju, tapi Gunung Fuji tidak terlihat karena terhalang kabut. Bahkan Parno pun protes dan spontan berkata, "jadi mana Fuji Film?" 

Dan semua tertawa karenanya. 

Pendukung Aming Coffee di Owakudani.

Tapi di tempat yang sama ini pula sebuah sejarah diukir. Bagi yang belum tahu, saya menggemari Aming Coffee sejak 2017, sejak saya mewawancarai pemiliknya. Saya selalu merasa bahwa Aming Coffee ini bagaikan Hard Rock Cafe, satu hal yang membanggakan dari kota kelahiran saya, Pontianak. Jadi di hari terakhir bersama di Jepang, kita memakai kaos Aming Coffee. Kita abaikan dinginnya cuaca (anda bisa lihat dari ekspresi Parno) dan berfoto di Owakudani. Foto ini kini digantung di ruang tamu saya.  

Dari Owakudani, kita lanjut dengan kereta gantung, trem dan kereta, kembali ke posisi semula di Stasiun Hakone-Yumoto dan pulang ke Tokyo. Kita turun di Stasiun Shinjuku yang ramai dan Parno yang trauma karena telah beberapa kali ketinggalan kini mengikuti setiap langkah Eday. Dia bahkan ikut mengitari tiang di stasiun, tak sadar bahwa ia sedang dikerjai, haha.

BL dan gadis Jepang di kereta menuju Shinjuku.

Kita berpencar di Shinjuku. Tujuh orang termasuk saya pergi ke Akihabara lagi, kali ini kita mengunjungi toko pernak-pernik seks setinggi tujuh lantai yang bernama Pop Life Department M's, tempat bermain pachinko dan juga lantai bawah tanah yang menjual aneka DVD porno. Sesudah itu kita mampir ke kafe pelayan @Home Cafe. 

Ini adalah sebuah pengalaman yang unik. Para pelayan wanita ini memakai seragam seperti di komik dan nama samaran pelayan kita adalah Kitsune. Dia mengenakan masker, jadi mukanya tertutup separuh, tapi raut wajahnya terlihat lebih mirip bule daripada orang Jepang. Ketika mereka melayani kita, interaksinya mirip kartun Jepang. Ada cerita di balik menu minuman dan pelayannya pun sangat menjiwai perannya. 

Moe moe kyuuttt!

Landak mengabarkan kita bahwa dia tidak bisa datang, jadi kita memberitahukan pelayan bahwa meja Parno hanya ada tiga tamu. Ketika ia melihat bahwa bon di meja dihitung berdasarkan empat tamu, pelayan tersebut kaget sampai terangkat tangannya, benar-benar seperti kartun sehingga kita pun tertawa. Kemudian, ketika minuman disajikan, kita harus mengikuti gerakannya dan mengucapkan mantra yang terdengar seperti, "moe moe kyuutttt." 

Sebelum kembali ke hotel, kita mampir ke McDonald's untuk makan lagi. Parno mengomel karena kita masih makan meski malam sudah kian larut, tapi dia sendiri malah yang makan paling banyak, haha. Karena dia agak batuk, kentang gorengnya lantas diamankan oleh Ardian demi kebaikannya. 

Di Mcdonald's.

Dan malam pun diakhiri dengan kemas-kemas koper dan judi. Kita memiliki begitu banyak koin sehingga kalah pun rasanya lega karena kita tidak perlu lagi menyimpan segenggam koin di saku celana. Susan dan Cicilia menang di malam itu. 

Keesokan paginya, ada kesan bahwa kebersamaan kita akan segera berakhir. Kita berjalan-jalan di sekitar Asakusa untuk terakhir kalinya. Saya, Eday dan Muliady sarapan bersama untuk terakhir kalinya. Selanjutnya saya dan Eday pun ngopi bersama di Tokyo untuk terakhir kalinya. Di situ kita juga melihat Landak yang sering tiba-tiba muncul untuk terakhir kalinya. Dia mendadak turun dari eskalator tepat di depan kafe Tully's. Setelah itu, saya, Landak, Taty dan Eday pun meninggalkan hotel dan menuju stasiun. Eday berangkat ke Narita sementara kita ke Haneda, kembali ke Singapura lewat Manila... 

Parno dan Eday: dua teman lama di Jepang.

Sunday, March 26, 2023

The Japan Trip: Day Five, In Yokohama

I often used the analogy of Jakarta and Bekasi (though I should have used Tangerang as it's more accurate) to illustrate Tokyo and Yokohama. Both cities are sharing the same airport and Yokohama is not very far from Tokyo. Due to this, I couldn't help comparing how similar these cities in Indonesia and Japan are.

This is also the reason why we woke up much later than usual on the day we visited Yokohama. For the first time ever throughout our stay in Japan, we actually had enough sleep! Unlike the previous days, we only reached Ueno Station at 8:37 AM. 

Shanti in Yokohama.
Art by Eday.

Yokohama Station is only about half an hour away from Ueno. When we arrived in Yokohama, the weather was pleasant. It was nice for morning walk, so we headed to Rinko Park, passing by the Anpanman Children's Museum. Rinko Park is on the seaside. It is green and beautiful, so the ladies (and some guys) spent time taking pictures here.

Those who waited got creative with Parno. The man had been carrying popcorn around from Indonesia to Japan on daily basis because a friend asked him to take pictures for promotional purpose. It was quite irritating to have such a task during holiday, hence we decided to have some fun. There was a bench in the park, so we got Parno to pose like a homeless with popcorn on his crotch, haha.

Parno, the homeless in Yokohama.

From there, we walked to the Cupnoodles Museum. We couldn't be loving Indomie so much without getting some knowledge about the humble beginning of instant noodles! After that, we had a brisk walk to Hard Rock Cafe Yokohama for a quick t-shirt shopping.

While we were here, we got a glimpse another Parno's original behavior. We laughed so hard as we listened to Eday recounting the story. What Parno did was, he approached Eday who was in the midst of eating a burger and innocently asked, "is that a burger?" Eday froze, too shocked to continue eating as Parno was pointing at his burger and stating the obvious. He eventually gave one to Parno, haha. 

With Muliady, HRR and Shanti.

Then we resumed the journey and headed to Gundam Factory. Eday and the others walked so fast and they took the route via Cupnoodles Museum. Muliady, Shanti, HRR, Surianto and I took a longer route instead because we snapped a picture or two in front of Nippon Maru, a training vessel that is permanently docked in Yokohama Harbour.

The rendezvous happened around 1:34 PM. I was queueing for the tickets when Eday and friends appeared. It was kind of surprising that they were behind us, considering that they left Hard Rock Cafe first. It was revealed later on that the route they took was quite scenic, hence they stopped more often to take pictures, haha.

With Gundam.

Now, Gundam Factory. I was sitting on a bench, staring at Gundam. Images from anime such as Voltes, Mazinger and Getter Robo (oh yeah, throughout my life, I had never watched Gundam, haha) were playing in my head as I observed the sheer size of the robot in front of me. The anime made it so easy for the robots to move, ignoring all the physics laws. The real deal such as this got me thinking for the first time ever, how complex a robot design actually was. 

Next stop was Chinatown. The Yokohama Chūkagai is a very commercialized area. When we were there, it was swarmed by tourists. We ended up eating our late lunch at Kafuku Hanten (華福飯店), a restaurant that had no queue. Now, in our group chat, we have this rule that you can only comment after experiencing it at least twice. As a person who had eaten twice in this Chinatown (first time was back in 2015), I could safely tell you that the food was never delicious, haha. It's just after too many servings of Japanese cuisines, you tend to crave for something Chinese.

Muliady in Chinatown. Can you spot Parno and HRR?

It was late in the afternoon when we finished our lunch. Still too early to go back, we visited one last stop: Yokohamabashi, a shopping street. It was almost dark when we reached there. Most of the shops had closed, so we didn't spend too much time there and headed back to Yokohama Station. 

The thing with our fast-paced group was, some members were ill-suited for it. When most of us made it to the train platform, we then realized that Parno was missing. He was nowhere to be found. Even Muliady that came last also didn't see Parno, so I exited the ticket gate to look for him. Turned out that he was stuck because he got too many used tickets in his pocket. As a result, he wasn't sure which one to use to get out from the rapid transit line. 

We eventually boarded the train and returned to Tokyo. In Asakusa, Surianto and I decided to try out the KFC in Japan. The portion was generous, but wasn't really special. After dinner, I went back to Sake no Daimasu Kaminarimon, this time with Surianto. Eday, Gunawan and Ardian joined us a moment later and we tried out Instagram Live, haha. Taty, Susan and Cicilia happened to pass by and Eday saw them, so all three came in as well. We hung out till the bar closed. Time really flies when we have good times, because tomorrow's destination was already our last one: Hakone!

KFC in Japan.

Liburan Ke Jepang: Hari Kelima, Di Yokohama

Saya sering menggunakan analogi Jakarta dan Bekasi (meskipun harusnya Tangerang karena lebih akurat) untuk menggambarkan Tokyo dan Yokohama. Bandara Haneda terletak di antara dua kota ini dan Yokohama tidak jauh dari Tokyo. Karena persamaan inilah saya jadi teringat dengan Jakarta dan Bekasi. 

Apa yang saya jabarkan barusan juga menjelaskan kenapa kita bangun lebih siang dari biasanya di hari kita mengunjungi Yokohama. Untuk pertama kalinya sejak liburan ke Jepang dimulai, saya merasa cukup tidur! Berbeda dengan biasanya, di hari ini kita mencapai Stasiun Ueno jam 8:37 pagi. 

Shanti di Yokohama.
Ilustrasi oleh Eday.

Stasiun Yokohama bisa dicapai dalam setengah jam. Ketika kita tiba di Yokohama, cuacanya sangat nyaman. Cocok untuk berjalan pagi, jadi kita pun menuju Rinko Park dan melewati Anpanman Children's Museum. Rinko Park terletak di tepi laut. Kawasannya hijau dan indah sehingga banyak yang berhenti untuk berfoto-foto.

Yang menunggu pun kreatif menghabiskan waktu bersama Parno. Teman kita ini sudah menenteng popcorn dari Indonesia sampai Jepang setiap hari karena seorang teman di Pontianak minta agar produknya difotokan di Jepang untuk tujuan promosi. Agak menjengkelkan sebenarnya, jadi kita pun iseng berkarya. Melihat bangku taman, kita meminta Parno berbaring seperti tuna wisma dan menaruh popcorn di selangkangannya, haha. 

Parno, tunawisma di Yokohama.

Dari taman, kita berjalan menuju Cupnoodles Museum. Oh, kita tidak mungkin mencintai Indomie tanpa mengerti asal-usul mie instan, jadi kita masuk dan menambah wawasan. Sesudah itu, kita mampir ke Hard Rock Cafe Yokohama untuk berburu kaos.

Selagi berada di sana, sekali lagi kita dibikin tergelak oleh tingkah Parno yang spontan tapi jenaka. Kisah kali ini dialami Eday dan diceritakan ulang kepada kita. Sambil menunggu di depan Hard Rock, Eday menikmati burger yang dibelinya. Siapa sangka Parno malah mendekat dan bertanya dengan polos, "ini burger?" Eday tertegun saat burgernya ditunjuk dan ditanyai, padahal itu sudah jelas-jelas burger. Akhirnya dia merelakan satu burger untuk Parno, haha. 

Bersama Muliady, HRR dan Shanti di depan Nippon Maru.

Dari Hard Rock kita lantas bertolak ke Gundam Factory.  Eday dan yang lain berjalan kembali ke arah Cupnoodles Museum sementara Muliady, Shanti, HRR, Landak dan saya mengambil jalur memutar karena kita berfoto sejenak di depan Nippon Maru, kapal yang kini berlabuh permanen di Pelabuhan Yokohama. 

Kita semua bertemu kembali sekitar jam 1:34 siang. Saya sedang antri tiket ketika Eday dan kawan-kawan muncul dari belakang. Saya sempat heran kenapa mereka lebih lambat, padahal mereka lebih dulu bergegas ke Gundam Factory. Setelah ditanyakan lebih lanjut, ternyata rute yang mereka ambil banyak pemandangan indah, jadi mereka sering berhenti untuk berfoto, haha. 

Bersama Gundam.

Di Gundam Factory, saya duduk di bangku dan menatap Gundam yang tinggi menjulang. Saat itu adegan-adegan dari Voltes, Mazinger dan Getter Robo (oh ya, sampai hari ini, saya tidak pernah menonton Gundam, haha) berputar kembali di benak saya. Robot-robot di kartun yang saya tonton di masa kecil terlihat lincah gerakannya. Gundam di depan saya ini, yang dirancang sesuai dengan hukum fisika, memberikan gambaran betapa kompleks robot itu sesungguhnya. 

Pemberhentian berikutnya adalah Chinatown. Yokohama Chūkagai ini adalah tempat yang sangat komersil dan dipadati oleh turis. Kita akhirnya makan siang di Kafuku Hanten (華福飯店) yang kebetulan tidak ada antrian. Nah, di grup kita ini ada aturan bahwa yang boleh komentar cuma mereka yang telah berpengalaman minimal dua kali. Sebagai orang yang sudah dua kali bersantap di Chinatown (kali pertama terjadi di tahun 2015), saya bisa berkata bahwa makanan di sini tidak enak, haha. Hanya saja karena kita sudah terlalu sering menyantap makanan Jepang, maka masakan Cina terasa cocok di lidah.

Muliady di Chinatown. Bisakah anda menemukan Parno dan HRR?

Hari sudah sore ketika kita selesai makan siang. Karena matahari masih belum terbenam, kita mengunjungi satu tempat terakhir: Yokohamabashi, jalan yang dipenuhi toko di kiri-kanannya. Sewaktu kita tiba, banyak toko sudah tutup, jadi kita tidak lama di sana dan meneruskan perjalanan ke Stasiun Yokohama. 

Yang masalah dengan grup kita yang cepat langkahnya adalah, tidak semua anggotanya bisa segesit itu. Ketika kita sudah sampai di tempat menaiki kereta, baru kita sadari bahwa Parno telah hilang. Entah di mana dia sekarang. Bahkan Muliady yang muncul paling akhir pun tidak melihatnya, jadi saya keluar lagi untuk mencarinya. Ternyata Parno tertinggal karena dia menyimpan banyak karcis yang sudah terpakai, jadi dia sempat kebingungan mencari karcis untuk keluar dari kereta jalur biru di Yokohama. 

KFC in Japan.

Setelah Parno ditemukan, kita akhirnya kembali ke Tokyo. Di Asakusa, saya dan Landak memutuskan untuk mencoba KFC di Jepang. Besar porsinya, tapi tidak terlalu istimewa. Setelah makan malam, saya singgah lagi di Sake no Daimasu Kaminarimon, kali ini bersama Landak. Eday, Gunawan dan Ardian datang tidak lama kemudian dan kita pun mencoba iseng fitur Instagram Live, haha. Taty, Susan dan Cicilia kebetulan lewat di depan dan Eday melihat mereka, jadi mereka pun bergabung pula. Kita nongkrong sampai bar tutup, berbincang tentang berbagai cerita. Waktu cepat berlalu ketika kita bersenang-senang. Tidak terasa besok sudah hari terakhir liburan. Tujuan selanjutnya: Hakone! 

Monday, March 20, 2023

The Japan Trip: The Snowy Fourth Day

Up until one week before our trip, I was still oblivious to the fact that we were going to Gala Yuzawa. I always thought that Niigata was where we were going to see the snow, but Susan suggested Gala Yuzawa a while ago and all agreed, though everyone seemed to have a hard time remembering the name for the longest time, haha. 

At Ueno Station, waiting for the train.

Anyway, that morning, we boarded a jam-packed shinkansen from Ueno Station to the snowy resort. We stood in the train for about an hour, barely able to move, and sat down only for the last five minute. Yeah, lots of empty seats after most passengers alighted at Echigo-Yuzawa, one station before our destination. 

Now, seeing snow was Gunawan's dream, so I had no idea what to expect. I only thought that, after going through my coldest night in Japan thus far, I had to wear something warmer than what I had now. Beanie and gloves included! And they were best bought in Gala Yuzawa, which was supposed to be sub-zero. 

Inside the cable car.

And it was sub-zero, all right. But the mountaintop surprisingly had no wind blowing, so it wasn't that cold. And the view was so breathtaking. Coming from a small town that sits right on the equator line, I never saw such a beautiful landscape before. It was all white, perfectly curved at some places, so peaceful, like a wonderland. 

I would say that we didn't quite know what to do once we got off the cable car, but we adapted pretty quick. We occupied the empty space next to the ski slope and got busy. It began with a tame photo-taking activity and it immediately escalated to pelting each other with snow balls and one body slam for Parno. BL said we got few heads turning and smiling, but I guess that's the beauty of our childlike innocence.

And Parno is down!

It didn't last long, though. Let's not forget that we're in our 40s now and it was actually quite tiring to keep moving in the snow. Every misstep could result in falling down and that's what happened to me once. And those guys, instead of helping, they showed no mercy! The moment I lost my footing, they came and trashed me, the action that would eventually dubbed as baptism by ice.

Once we were done playing snow, we went inside the resort to have our lunch and coffee. We were not going back out there for another round, so we went back to where we came from and walked to Echigo-Yuzawa Station. Simple though it was, the experience was unforgettable. I simply couldn't help touching the puffy wall of snow along the roadside. Once it was formed into a snow ball, I'd throw it at the person in front of me, haha. 

BL and HRR, holding a snow ball on the road side.

We stopped at 7-Eleven for a snack and some of us then dipped their feet into the hot spring in front of Echigo-Yuzawa Station. We then took the shinkansen to Niigata. Upon seeing not much snow as we approached the city, we felt glad that we had visited Gala Yuzawa. But Niigata was not without surprises. It was there that we experienced sleet, a mixture of rain and snow. 

Niigata was like a sleepy town if compared with Tokyo. From the station, we walked towards Bandai Bridge to have a glimpse of its waterfront, then turned to Minato Marche Pier Bandai. It was a quiet market in the afternoon. We went to the organic food store, then the wet market to buy some local snack such as raw squids and dried scallops. The sea wind in Niigata was quite cold that we eventually took a break at Hyakuichizen, a hut that sold donburi (and played only songs by the Beatles). Niigata is famous for its rice, but in all fairness, I don't think I could tell the difference, haha. 

With BL in Niigata.

We left Niigata around 5 PM and reached Ichiran Asakusa in the evening. There was a queue, which was common for Ichiran, and by the time we had our ramen in our booth (instead of tables, because eating in a booth was a unique Ichiran experience), it was already 8 PM. I wanted to buy extra warm clothes and therefore rushed to Uniqlo, but by the time I got there, it was already closed.

That's when Eday and I went to Sake no Daimasu Kaminarimon, a bar in Asakusa that serves many varities of sake. We tried almost everything, from the hot sake to cold sake, but we eventually settled with Snow Drop from Akebono Brewery in Fukushima. The liquor uses sake and yoghurt as its base, very tasty and delicious. 

Snow Drop.

But what made it all the more special was the moments we spent there as two old friends who are so similar and yet so different at the same time. We had known each other for so long that not only we could reminisce the past, laugh at the present and look forward to the future, but most importantly, we also could talk openly about anything. 

All good things must come to an end, though. We had our last order and the bar eventually closed. Just like many magical moments that happened throughout the trip, we couldn't replicate them again even if we wanted to. 

Still I can tell you this much: these two kids who went to the same high school in Pontianak, they would never, in their wildest dream, imagine that they'd sit together at a bar in Tokyo one day. It was crazy. It was unbelievable. But yet there we were. That night will stay forever as one of the best times of my life...

At Sake no Daimasu Kaminarimon.
Photo and art by Eday.

Liburan Ke Jepang: Hari Ke-4 Yang Bersalju

Dari awal hingga seminggu sebelum liburan, saya tidak ada gambaran bahwa kita akan ke Gala Yuzawa. Saya selalu mengira bahwa tujuan kita untuk melihat salju adalah Niigata. Setelah saya cek kembali di grup Jepang, ternyata Susan sudah mengusulkan Gala Yuzawa dari jauh hari dan semua setuju, meski tampaknya semua kesulitan mengingat nama tempatnya, haha.

Di Stasiun Ueno, menanti datangnya shinkansen.

Di pagi itu, dari Stasiun Ueno kita menaiki shinkansen yang penuh sesak. Kita berdiri sejam lamanya di kereta, nyaris tak bisa bergerak, dan hanya duduk selama lima menit terakhir. Ya, banyak kursi kosong setelah para penumpang turun di Echigo-Yuzawa, satu stasiun sebelum tempat tujuan kita.

Melihat salju adalah impian Gunawan, jadi saya tidak memiliki ekspektasi apa pun. Saya hanya tahu bahwa, setelah malam paling dingin di Jepang di hari sebelumnya di Shinjuku, saya harus memakai pakaian yang lebih hangat lagi dari apa yang saya kenakan pada saat ini. Kupluk dan sarung tangan adalah perlengkapan wajib! Dan semua ini paling tepat dibeli Gala Yuzawa yang suhunya di bawah nol. 

Di dalam kereta gantung.

Dan cuacanya sungguh di bawah nol. Namun puncak gunung ternyata tidak begitu dingin karena angin tidak bertiup. Pemandangannya benar-benar menakjubkan. Bagi orang yang datang dari kota yang terletak di garis Khatulistiwa, saya tidak pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya. Semua serba putih, melengkung bundar sempurna di pojok-pojok tertentu, begitu damai, seperti negeri dongeng. 

Saya kira kita tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah turun dari kereta gantung, tapi kita beradaptasi dengan cepat. Kita menempati lahan kosong di samping tempat ski dan mulai sibuk sendiri. Pertama-tama kita hanya berfoto, tapi tak lama setelah itu, kita mulai iseng melempar bola salju dan Parno pun dibanting ke tumpukan salju. BL berkata bahwa ada beberapa pengunjung lain yang mengamati dan tersenyum melihat ulah kita. Mungkin karena kepolosan dan kegembiraan kita membuat mereka ikut tergelak di dalam hati. 

Dan Parno pun terhempas!

Akan tetapi aktivitas di puncak salju tidak berlangsung lama. Bagaimanapun kita sudah di kisaran umur 40an dan bergerak di tempat bersalju itu cukup melelahkan. Kita bisa tergelincir setiap kali salah langkah dan saya sempat jatuh terjerembab pula. Dan yang saya panggil teman-teman ini bukannya membantu, tapi malah langsung mengeroyok saya. Bola salju melayang dan saya ditimbun dengan salju. Semua akhirnya mendapatkan giliran serupa dan dibaptis dengan salju. 

Seusai bermain salju, kita masuk ke kantin untuk bersantap siang. Sesudah itu, kita putuskan untuk meneruskan perjalanan, jadi kita menaiki kereta gantung dan kembali ke tempat semula, lalu berjalan ke Stasiun Echigo-Yuzawa. Meski sederhana, pengalaman di Gala Yuzawa sungguh membekas dan tidak terlupakan. Sambil berjalan, saya suka menyentuh tumpukan salju di tepi jalan. Setelah terkumpul dan dibentuk sebagai bola salju, saya pun menimpuk orang yang ada di depan, haha. 

BL dan HRR, memegang bola salju di tepi jalan.

Kita berhenti sejenak di 7-Eleven untuk membeli cemilan, lalu beberapa di antara kita duduk berendam kaki di sumber air panas di depan Stasiun Echigo-Yuzawa. Dari sana, kita naik shinkansen to Niigata. Setelah melihat salju yang tidak seberapa saat kita mendekati kota, ada rasa bersyukur bahwa kita sudah mampir ke Gala Yuzawa. Kendati begitu, Niigata bukannya tidak memiliki kesan tersendiri. Di kota ini kita mengalami hujan air bercampur salju. 

Niigata terasa seperti kota yang sepi bila dibandingkan dengan Tokyo. Dari stasiun, kita berjalan ke Jembatan Bandai untuk melihat kawasan tepi sungai. Kemudian kita melanjutkan perjalanan ke Minato Marche Pier Bandai. Kawasan pasar ini terbilang sepi di sore hari. Kita singgah ke toko barang-barang organik, lalu ke pasar untuk membeli cemilan lokal seperti sotong mentah dan kerang yang sudah dikeringkan. Tadinya kita sempat duduk di depan pasar, tapi angin laut yang dingin akhirnya memaksa kita masuk ke Hyakuichizen, pondok kecil yang menjual donburi (dan hanya memutar lagu-lagu the Beatles). Oh ya, Niigata terkenal dengan berasnya, tapi setelah dicicipi, terus-terang saya tidak bisa bedakan rasanya bila dibandingkan dengan beras biasa, haha. 

Bersama BL di Niigata.

Kita meninggalkan Niigata sekitar jam 5 sore dan tiba reached Ichiran Asakusa di senja hari. Ada antrian di depan restoran, lazim untuk setiap cabang Ichiran, dan ketika kita duduk di konter masing-masing (ini adalah sesuatu yang unik di Ichiran), jam sudah menunjukkan pukul delapan. Setelah santap malam, saya bergegas ke Uniqlo untuk membeli setelan baju hangat, tapi pusat perbelanjaan tersebut sudah tutup saat saya sampai di sana.  

Eday dan saya lantas berjalan ke Sake no Daimasu Kaminarimon, sebuah bar di Asakusa yang menjual berbagai macam sake. Kita coba hampir semua yang tersedia, mulai dari sake panas sampai sake dingin, tapi akhirnya berulang-kali memesan Snow Drop, sake yang diproduksi oleh Akebono Brewery di Fukushima. Minuman beralkohol ini menggunakan sake dan yogurt sebagai basisnya, rasanya lezat dan enak untuk diminum. 

Snow Drop.

Namun yang paling istimewa dari saat minum di bar ini adalah waktu yang kita habiskan sebagai dua teman yang mirip tapi juga bertolak-belakang karakternya. Kita sudah mengenal satu sama lain begitu lama sehingga kita bukan saja bisa mengenang masa lalu, menertawakan apa yang kita lewati hari ini dan berandai-andai tentang masa depan. Yang lebih penting lagi, kita juga bisa berbicara terbuka satu sama lain tentang apa saja. 

Akan tetapi semua hal harus berlalu. Kita akhirnya memesan botol terakhir dan bar pun tutup. Seperti begitu banyak kenangan luar biasa yang terjadi sepanjang liburan, kita tak pernah bisa lagi mengulangi kebersamaan yang terjadi secara spontan ini, meskipun kita kembali ke tempat yang sama di malam berikutnya.

Kalau saya lihat kembali lagi, berikut ini pendapat saya: 25 tahun silam, ketika dua remaja ini masih duduk di kelas yang sama di SMU Santu Petrus Pontianak, tidak pernah sedikit pun terbayangkan oleh mereka kalau mereka berdua akan duduk berbincang di Tokyo suatu hari nanti. Ini benar-benar sulit untuk dipercaya, tapi di sanalah dua teman lama itu berada, menenggak sake dan tertawa. Kenangan malam itu akan abadi selamanya di dalam hati saya... 

At Sake no Daimasu Kaminarimon.
Photo and art by Eday.