Total Pageviews

Translate

Tuesday, January 6, 2026

Breaking The Boundaries

While the recent trip to Cambodia was pretty much a manifestation of something cheeky and ocipala, the lesson I learned from it wasn't. On the contrary, it was actually quite enlightening. It made me realize that we had subconsciously carried the baggage of our upbringing, that certain things couldn't be done or shouldn't be done in such a way. 

Let's put it into context. I was going to Hard Rock Cafe, just not the one on Orchard Road, but the one in the neighboring country. The norm dictated that such an action was over the top, but if it was harmless and a dream I could afford, why shouldn't I do that? Granted, it was unusual, but it was doable. It was possible.

The main problem is what people or even we ourselves would say about it. Such a mindset was what we grew up with, one that would solidify as boundaries that stopped us from doing things we could have done. Growing up in a small town with an unsupportive culture, I also developed these issues subconsciously.

I had many, in fact. The inability to swim, because what would people say if they saw a middle-aged guy learning how to swim? Then there were others, such as watching a Beatle perform or stepping onto the Abbey Road zebra crossing. Those felt impossible, so unlikely that it felt almost forbidden.

It would have stayed that way forever, until I suddenly realized that perhaps it shouldn't be this way. It was an epiphany. And much to my surprise, worlds collided when I took the steps. The impact was huge. I could look silly and struggle like mad in the water, but others would just mind their own business, apparently. For close to three hours in my lifetime, that boy from Pontianak and a Beatle were in the same room. And when I took my first step on the zebra crossing, it was like telling my younger self, "I bet you didn't see this coming, eh?"

And just like that, the boundaries were shattered. Things that had stayed impossible for the longest time, they just vanished. And when they did, a new understanding was born: it turned out that it could be done. And the more you broke the boundaries, not only did you gain confidence that things could be done, but your priorities would also be clearer.

Just this morning, in our group chat, my friend Wiwi said it was not possible that Hendra Wijaya considered going to Brunei. But the real question was, why not? Everything started with a small step, but the more you did it, the more you felt that it wasn't out of reach. Tomorrow, the world! Isn't that how it should be? If life is about cultivating habits, then perhaps it's time to break the mindset barriers. We're not getting any younger!

That young man on the right and the baggage of his upbringing.



Batasan Dalam Pola Pikir

Perjalanan saya baru-baru ini ke Kamboja sebenarnya merupakan manifestasi dari sesuatu yang agak iseng dan ocipala, tapi pelajaran yang saya dapat dari pengalaman tersebut tidaklah main-main. Justru sebaliknya—pengalaman itu sangat mencerahkan. Saya jadi merasa bahwa tanpa sadar, kita senantiasa terbelenggu keterbatasan yang kita pelajari sedari kecil: bahwa ada hal-hal yang seakan tidak boleh dilakukan, atau seharusnya tidak dilakukan dengan cara tertentu.

Untuk memberi konteks, saya pergi ke Hard Rock Cafe—bukan yang di Orchard Road, tapi yang ada di negara tetangga. Menurut norma yang umum, tindakan seperti itu terdengar berlebihan. Tapi kalau itu hal yang tidak berbahaya dan merupakan mimpi yang bisa saya wujudkan, kenapa tidak? Memang agak tidak lazim, tapi bukanlah perkara yang tidak mungkin, melainkan sesuatu yang bisa dilakukan.

Masalah utamanya adalah apa yang orang lain—atau bahkan diri kita sendiri—akan katakan tentang tindakan kita. Pola pikir seperti inilah yang kita anut sejak kecil. Hal ini membentuk batas-batas di pikiran kita, yang akhirnya menghentikan kita untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa saja kita lakukan. Tumbuh di kota kecil dengan budaya yang kurang mendukung, saya pun memiliki banyak masalah seperti ini yang tanpa sadar membatasi saya.

Banyak sekali, sebenarnya. Misalnya, saya tidak bisa berenang karena berpikir: “Apa kata orang kalau mereka melihat pria paruh baya belajar berenang?” Lalu hal-hal lain, seperti menonton seorang Beatle secara langsung, atau melangkah di zebra cross Abbey Road. Semua itu dulu terasa tidak mungkin—begitu mustahilnya sampai terasa seperti sesuatu yang “terlarang”.

Dan mungkin akan tetap begitu selamanya, sampai saya tiba-tiba menyadari bahwa seharusnya tidak perlu demikian. Saya mengalami semacam pencerahan. Dan yang mengejutkan, begitu saya mulai melangkah, dua dunia yang berbeda pun bertabrakan. Dampaknya luar biasa. Saya mungkin terlihat konyol dan kesulitan di air, tapi ternyata orang lain tidak peduli dan mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Dalam waktu sekitar tiga jam dalam hidup saya, seorang anak dari Pontianak dan seorang Beatle berada di ruangan yang sama. Dan ketika saya menapakkan kaki pertama di zebra cross Abbey Road, rasanya seperti berkata pada diri saya dulu yang berusia belasan tahun, “Hei, kamu pasti tidak menyangka ini bakal terjadi, kan?”

Dan tiba-tiba saja, batas-batas itu runtuh. Hal-hal yang dulu terasa mustahil tiba-tiba lenyap. Dan ketika itu terjadi, muncul sebuah pemahaman baru: ternyata semua itu bisa dilakukan. Semakin banyak batas yang kamu lewati, bukan hanya kepercayaan dirimu bertambah, tapi juga prioritas hidupmu jadi lebih jelas.

Pagi ini di grup SMA kami, teman saya Wiwi berkomentar bahwa tidak mungkin Hendra Wijaya mempertimbangkan untuk pergi ke Brunei. Namun pertanyaan sebenarnya adalah—kenapa tidak? Segala sesuatu dimulai dari langkah kecil, tapi semakin sering kamu melangkah, semakin terasa bahwa itu bukan hal yang mustahil. Dunia menanti! Bukankah seharusnya hidup memang seperti itu? Kalau hidup adalah tentang membentuk kebiasaan, maka mungkin sudah saatnya kita juga menghancurkan batasan dalam pola pikir kita. Jangan lupa, kita juga tidak semakin muda!